Live your Life
About Me
- Akhmad Adiasta
- Senantiasa Berusaha memotivasi diri dan umat, serta berbagi Hikmah, Ibrah dan Insipirasi. Mari bangkitkan umat dengan dakwah Islam. Terapkan syariah, Tegakkan Khilafah
Sepiring Nutrisi Hikmah dan Inspirasi
Link Inspirasi
Senin, 21 Desember 2009
Selasa, 10 November 2009
Beberapa Lagu Nasyid,,,
ada beberapa lagu dari hijazz. silahkan didonlot
Insya Allah lagu-lagu lainnya bakal segera menyusul
Label:
Share
Selasa, 27 Oktober 2009
Berapa harga dunia anda
Ibnu sammak seorang yang jago memberi nasehat menemui harun ar rasyid. Saat itu harun merasa haus dan meminta segelas air. Maka, ibnu sammak bertanya, “seandainya anda dicegah untuk meminum air itu, apakah anda akan menebus dengan separuh kerajaanmu?”
Harun al rasyid menjawab, “ya.” Setelah selesai minum ibnu sammak bertanya lagi,“jika anda dicegah untuk mengeluarkan air yang telah anda minum dari perutmu, apakah anda relah membayar dengan separuh kerajaanmu yang lain?”
Harun al rasyid menjawab, “ya.” Setelah selesai minum ibnu sammak bertanya lagi,“jika anda dicegah untuk mengeluarkan air yang telah anda minum dari perutmu, apakah anda relah membayar dengan separuh kerajaanmu yang lain?”
Label:
Features
...saat Allah membiarkanmu...
Mungkin ga sih Allah membiarkan seseorang terus menerus berada dalam ‘kesalahan’ untuk jangka waktu yang lama?
Tapi kenyataannya memang begitu. kadangkala Allah bisa saja membiarkan kita dalam kesalahan, termasuk untuk jangka waktu yang lama. Lihat saja, berapa banyak orang-orang yang mereka hidup ‘tanpa Tuhan’, bergelimang dosa. Yang terjadi, Allah membiarkan mereka hidup makmur sejahtera dengan tidak merasa bersalah sedikitpun...(bahkan hingga akhir hayatnya ! ).Pada kasus lain adakalanya Allah memberikan cobaan dan peringatan buat seseorang, lalu dia bangkit dari kesalahannya. Jadi...memang bisa2 aja Allah membiarkan atau memberi peringatan.
Masih berkubang dalam tanya, hari ini kutemukan beberapa ayat dalam Al Isra’:
Tapi kenyataannya memang begitu. kadangkala Allah bisa saja membiarkan kita dalam kesalahan, termasuk untuk jangka waktu yang lama. Lihat saja, berapa banyak orang-orang yang mereka hidup ‘tanpa Tuhan’, bergelimang dosa. Yang terjadi, Allah membiarkan mereka hidup makmur sejahtera dengan tidak merasa bersalah sedikitpun...(bahkan hingga akhir hayatnya ! ).Pada kasus lain adakalanya Allah memberikan cobaan dan peringatan buat seseorang, lalu dia bangkit dari kesalahannya. Jadi...memang bisa2 aja Allah membiarkan atau memberi peringatan.
Masih berkubang dalam tanya, hari ini kutemukan beberapa ayat dalam Al Isra’:
Label:
Features
Senin, 26 Oktober 2009
The Fall of Constantinople
“Fa Qaala Abdullah ibnu Umar: Bainama nahnu hawla rasulillahi salallahu ‘alaihi wassalam naktubu, idz su'ila Rasulillahi Ayyul madinataini tuftahu awwalan, Alqostantinia awRumia ? Fa qaala Rasulullah: Madinatu Hiraqli tuftahu awwalan, ya'ani qostantinia”
“Fa Qaala Abdullah ibnu Umar: Bainama nahnu hawla rasulillahi salallahu ‘alaihi wassalam naktubu, idz su'ila Rasulillahi Ayyul madinataini tuftahu awwalan, Alqostantinia awRumia ? Fa qaala Rasulullah: Madinatu Hiraqli tuftahu awwalan, ya'ani qostantinia”
Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, "bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba beliau SAW ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, "Kota Heraklius terlebih dahulu (maksudnya Konstantinopel) (HR Ahmad)
“Latuftahannal qostantinniyyah falani’mal amiiru amiiruha wala ni’mal jaysu dzaalikal jays”
Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya (HR Ahmad)
“Fa Qaala Abdullah ibnu Umar: Bainama nahnu hawla rasulillahi salallahu ‘alaihi wassalam naktubu, idz su'ila Rasulillahi Ayyul madinataini tuftahu awwalan, Alqostantinia awRumia ? Fa qaala Rasulullah: Madinatu Hiraqli tuftahu awwalan, ya'ani qostantinia”
Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, "bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba beliau SAW ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, "Kota Heraklius terlebih dahulu (maksudnya Konstantinopel) (HR Ahmad)
“Latuftahannal qostantinniyyah falani’mal amiiru amiiruha wala ni’mal jaysu dzaalikal jays”
Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya (HR Ahmad)
Label:
Inspirations
Senin, 22 Juni 2009
Enam Jam Menyisir Jalanan Kota Malang
Sahabat, kembali hidup mengajakku untuk berpikir. Dalam setiap detiknya, ia menyajikan banyak fenomena yang terkirim dan terekam oleh otak, baik disadari maupun tidak. yah, itulah kehidupan. setiap saat, ada saja hal-hal menakjubkan dan mengejutkan yang hadir didalamnya.
Sahabat, pengalaman dan pengamatan istimewa kembali hinggap dalam diriku. Peristiwa-peristiwa tersebut, tepatnya terjadi hari sabtu lalu 20 Juni 2009. terhitung mulai pukul 18.00 ba'da maghrib WIM (Waktu Indonesia Malang), aku bersama seorang teman, mulai menyusuri ruas-ruas jalan di kota Malang yang, hmmhhh.... dingin ini.
Pertama-tama, aku dan Alif, sahabatku melintasi jalan Sudanco Supriadi di kecamatan Sukun. petang itu, kami berniat melakukan perjalanan untuk berburu berbagai bahan makanan yang kami persiapkan untuk pesanan makanan esok hari. Maklum, saat ini kami sedang menjalankan bisnis katering yang kami namakan Hayati Food Org. hee,,, hee,,, sekalian promosi!!
Tujuan awal kami adalah sebuah toko grosir di wilayah Kepuh. dan pada saat itulah, pengalaman menarik kami bermula. Jalan raya nampak ramai. Ratusan kendaraan berupa mobil dan motor nampak menyusuri Jl. S. Supriadi ke arah utara. Karena kami menuju arah sebaliknya, maka sudah barang tentu agak sulit bagi kami untuk menyeberang.
Beberapa kendaraan yang lewat, sempat menarik perhatianku. karena, sebagian besar dari mereka membawa serta seseorang dimotornya. entah itu teman, sahabat, atau saudara. Hmm, mungkin jika dua orang laki-laki yang beboncengan, bisa jadi itu adalah sesuatu yang wajar. Namun sahabat, bukannya saya memanfaatkan peluang di kesempitan. Tetapi, mata ini tak henti-hentinya menatap pemandangan yang sssshhh,,, membuat mulut ini berdesis ngeri. Bagaimana tidak? berpuluh pasang muda-mudi berboncengan dengan begitu mesranya. Terlebih, pakaian yang mereka kenakan, terutama yang wanita begitu simpel. yah, mungkin "simpel" adalah kata-kata yang pantas saya sebagai konotasi dari kata-kata "jorok", "seronok", "porno" atau apalah itu.
Sahabat, pengalaman dan pengamatan istimewa kembali hinggap dalam diriku. Peristiwa-peristiwa tersebut, tepatnya terjadi hari sabtu lalu 20 Juni 2009. terhitung mulai pukul 18.00 ba'da maghrib WIM (Waktu Indonesia Malang), aku bersama seorang teman, mulai menyusuri ruas-ruas jalan di kota Malang yang, hmmhhh.... dingin ini.
Pertama-tama, aku dan Alif, sahabatku melintasi jalan Sudanco Supriadi di kecamatan Sukun. petang itu, kami berniat melakukan perjalanan untuk berburu berbagai bahan makanan yang kami persiapkan untuk pesanan makanan esok hari. Maklum, saat ini kami sedang menjalankan bisnis katering yang kami namakan Hayati Food Org. hee,,, hee,,, sekalian promosi!!
Tujuan awal kami adalah sebuah toko grosir di wilayah Kepuh. dan pada saat itulah, pengalaman menarik kami bermula. Jalan raya nampak ramai. Ratusan kendaraan berupa mobil dan motor nampak menyusuri Jl. S. Supriadi ke arah utara. Karena kami menuju arah sebaliknya, maka sudah barang tentu agak sulit bagi kami untuk menyeberang.
Beberapa kendaraan yang lewat, sempat menarik perhatianku. karena, sebagian besar dari mereka membawa serta seseorang dimotornya. entah itu teman, sahabat, atau saudara. Hmm, mungkin jika dua orang laki-laki yang beboncengan, bisa jadi itu adalah sesuatu yang wajar. Namun sahabat, bukannya saya memanfaatkan peluang di kesempitan. Tetapi, mata ini tak henti-hentinya menatap pemandangan yang sssshhh,,, membuat mulut ini berdesis ngeri. Bagaimana tidak? berpuluh pasang muda-mudi berboncengan dengan begitu mesranya. Terlebih, pakaian yang mereka kenakan, terutama yang wanita begitu simpel. yah, mungkin "simpel" adalah kata-kata yang pantas saya sebagai konotasi dari kata-kata "jorok", "seronok", "porno" atau apalah itu.
Tentu, sebagai manusia yang normal, saya merasa risih dengan pemandangan seperti itu. Apalagi saat ini, cuaca di kota Malang semakin dengin. So, sangat tidak mungkin apabila logika mengiyakan, agar seseorang mengenakan pakaian yang minim. Bisa jadi masuk angin, influenza, atau penyakit dan alergi lain akan menerpa. Atau ada sesuatu yang lain yang mereka harapkan? pujian dari kaum adam mungkin? yah, bisa jadi. Paling tidak, lelaki yang memboncengnya mengeluarkan kata-kata gombal dari mulutnya untuk membuat penggemar pakaian minim itu bertekuk lutut.
Hal tersebut masih berkutat pada masalah pakaian. Belum lagi cara mereka berboncengan. Sudah barang tentu pasangan suami isteri tidak mau memamerkan kemesraan mereka didepan umum. Kesimpulanku tertuju pada muda-mudi yang masih berpikir kekanak-kanakan dan memperturutkan hawa nafsu mereka. oohh,,, tidak!!! Terbersit begitu saja dalam pikiranku,"boleh jadi, ini adalah laki-laki dan wanita yang menjalin hubungan tanpa status alias pacaran, yang ingin diakui keberadaannya ditengah masyarakat. Karena, dua sejoli yang sudah menikah takkan mencari perhatian orang lain."
Waktu menunjukkan sekitar pukul 18 lebih seperempat. Tibalah kami disebuah komplek perumahan di wilayah Kepuh, dimana kami menuju tempat belanja pertama, sebuah toko grosir. Beberapa meter sebelum kami sampai di toko tujuan, nampak fenomena yang tidak jauh dari aktifitas muda-mudi. Kendaraan bermotor nampak disekitar dua sampai tiga rumah kost wanita yang kami lalui. Terlihat beberapa pasang muda-mudi, sepintas lalu wanita-wanita nampak mengenakan pakaian milik adiknya. Ya, karena pakaian itu lagi-lagi sangat "simpel". Disamping masing-masing mereka duduk seorang pria, yang sepertinya itu adalah pasangan mereka. Tentu bukan suaminya. Melainkan pacar, atau TTM, atau apalah sebutan anak muda zaman sekarang ini. Pemandangan itu nampak mengerikan. Betapa tidak, mereka datang jauh-jauh dari luar kota tapi bayangkan! kerusakan apa yang sedang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri?? Rasa gundah kami sedikit mereda saat kami tiba di toko grosir tujuan kami.
Uang sebesar 47.500 rupiah kami belanjakan untuk membeli beras, kentang, air mineral, dan kebutuhan katering lainnya. Segera saja, kami bergegas menuju tempat produksi katering kami di jalan Sigura-gura. Lagi-lagi dalam perjalanan, di kanan-kiri kulihat muda-mudi beramai-ramai menghabiskan malam minggu yang dingin itu dengan bercanda ria di sepanjang jalan. Sebagian mereka bercengkrama di atas tikar berukuran 1x2 meter di sisi jalanan yang ramai, dengan hanya ditemani jilatan api membakar sumbu lilin. Dan sebagian yang lain, nampak asik berjongkok di pinggiran trotoar sambil menikmati masuknya asap hangat dari rokok yang mereka hisap. Wajar saja, di daerah sekitar kampus memang banyak sekali tempat hang-out. Uang dari saku mereka, yang entah mereka dapatkan dari orang tua ataupun usaha mereka itupun, tak ayal menjadi pemuas hasrat muda yang terpendam selama 5 hari lamanya. Ya, 5 hari, seandainya mereka hang-out di satu malam saja. tapi entah, apakah hari-hari biasanya juga seperti itu, wallahu a'lam bishawab.
(To Be Continued...)
Label:
Features
Kamis, 18 Juni 2009
DIBUKA!!! Smart Writing Class bersama KiaSs
Alhamulillah sahabat, beberapa waktu yang lalu teman2 memberi amanah pada saya untuk membimbing dalam kelas menulis dan jurnalistik yang diselenggarakan oleh LDR KiaSs Malang. Bagi sahabat yang berminat, dapat menghubungi kami. Kelas diselenggarakan pada hari jumat sore pukul 15.30 WIM (Waktu Indonesia bagian Malang). untuk kelas pertama, sudah diisi 8 orang dan sudah berjalan 3 kali. Bagi yang berminat, kumpulin aja 5 orang dan kita bikin kesepakatan kapan dan dimana tempatnya.Dan tidak lupa, bagi sahabat yang ingin berlangganan majalah Greensoul, dapat menghubungi kami. saat ini GS berjalan di edisi 10 dan akan segera terbit GS edisi 11. don't miss it, yaw!! Tetap Muda, Islamis Dinamis. terimakasih....
SMART WRITING CLASS, menjangkau dunia diatas pena!

Label:
Inspirations
Senin, 08 Juni 2009
Selasa, 02 Juni 2009
Akan Kembali Terang

Sahabat, kusadari kuberada dalam belantara hidup yang gulita. Belantara yang menyekapku dalam kebodohan dan ketidaktahuan. Belantara yang seharusnya tidak aku masuki, dan seharusnya sudah sejak lama aku tinggalkan. Namun sahabat, sepanjang usiaku ini aku tak pernah kuasa untuk meninggalkannya. Karena akar tanaman didalamnya terlalu kuat menjeratku. Angin sejuk dan segarnya air sungai yang mengalir melenakanku untuk terus hidup didalamnya.
Sahabat, disini aku selalu berharap, aku akan meraup kebahagiaan di dunia yang kukira adalah nirwana. Namun ternyata hanya sekelumit kenikmatan yang habis seketika. Aku menyangka bahwa disinilah aku akan hidup selamanya, mengenyam segala bentuk keindahan. Namun sahabat, tahukah engkau bahwa kehidupanku adalah sekedar dihiasi oleh bayang semu. Tetapi dengan bodohnya aku terus-menerus terhasut oleh bujuk rayu dunia dan hawa nafsu.
Sahabat, dahulu aku berpikir, hidupku masih panjang. Tak perlu ku bersusah payah untuk berjuang hari ini. Masih ada hari esok yang aku miliki. Setiap saat, di segala tempat, aku tak henti-hentinya mengejar apa yang aku inginkan. Segalanya ku halalkan demi terpuaskannya hawa nafsuku. Bagiku, rambu-rambu dan aturan tercipta untuk dilanggar. “Ah, untuk apa ini itu? Toh, aku masih belum tua, masih banyak waktu untuk menyempatkan memikirkan permasalahan hidup. Yang penting sekarang, kan ku nikmati masa muda yang kini kujalani. Apalah pentingya memikirkan orang lain, toh ini hidupku. Aku sendiri yang menjalani, tak usahlah orang mengaturku. Toh, mereka sendiri belum tentu becus mengatur hidupnya!” demikianlah mungkin sepenggal kalimat yang tertuang dalam otakku.
Sahabat, asal kau tau. Setiap hari aku merasa terganggu dengan ocehan orang-orang yang ku anggap sok pintar, sok mengerti agama dan selalu ingin menang sendiri. Seringkali mereka mengusikku dengan kata-katanya yang menyinggung diriku. Mengkritik dan mengoreksi segala hal yang aku lakukan. Yang haramlah, yang tidak sesuai dengan Islamlah, yang harus begini dan begitulah. “Agghh.. kalian ini kenapa sih? Kalo memang nggak bisa melakukan seperti apa yang aku lakukan, ya udah diem aja. Nggak usah pake iri, dan melarangku melakukan ini-itu. Toh kalo memang ini dilarang agama, aku sendiri yang akan menanggungnya. Kalian nikmati saja hidup kalian sendiri, dan hentikan aktifitas mengatur hidup orang lain. Ini hakku untuk berbuat semauku. Jadi jangan usik aku lagi!” yah, itulah kalimat yang sampai sekarang aku ingat. Kalimat yang dulu pernah aku umpatkan kepada seseorang. Seorang kawan yang seringkali memberiku peringatan. Seorang kawan yang senantiasa mengingatkanku untuk kembali ke jalan Sang Khaliq. Aku benci dengan sikapnya yang seakan memperlakukanku seperti anak keci yang tidak tahu jalan hidup.
Benar Sahabat, itulah diriku. Seorang yang egois, bodoh dan merasa akulah prang uang paling hebat se-dunia. Tidak mau diatur, meremehkan orang lain dan menjalani hidup semauku sendiri. Hingga sebuah peristiwa yang akhirnya benar-benar menampar dan menghempaskanku ke dalam jurang yang sangat dalam. Saat apa yang telah diperingatkan oleh kawanku benar-benar terjadi. Sepenggal kata-kata mereka yang masih kuingat, “kami adalah saudara seimanmu. Kami tak pernah rela jika engkau terjerumus dalam lembah dosa...” ya, begitu besarnya perhatian mereka kepadaku. Namun apa yang aku lakukan? Nasihat mereka tak sedikitpun yang aku gubris. Dan inilah hasilnya, sebuah harga mati yang harus aku bayar. Resiko yang harus aku terima sebagai bayaran atas apa yang telah aku lakukan dalam hidupku. Aku telah menghancurkan diri dan keluargaku. Teman-teman yang selama ini aku anggap orang-orang yang paling setia kepadaku, ternyata meninggalkanku. Mereka hanya memanfaatkanku dengan harta orang tua yang selama ini aku banggakan. Kini aku lunglai, sendiri dan putus asa.
Namun Sahabat, betapa malunya aku. Mulutku terdiam sejuta kata, saat kawan-kawan yang mengaku sebagai saudara seimanku, mengulurkan tangannya untuk menolongku yang sedang berada dalam keterpurukan. Bahkan mereka sama sekali tidak mempermasalahkan permusuhan dan cacian yang selama ini aku tujukan pada mereka. Dengan senyum yang tulus mereka hanya berkata, “Sungguh, Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya walaupun sebesar bumi. Insya Allah, kami siap membantumu...”
Sahabat, perlahan mereka membimbingku dari belantara kegelapan ini menuju sebuah titik terang. Membuatku terbelalak melihat kehidupan dan dunia. Ternyata, kehidupan tidak semudah dan semeriah yang aku bayangkan. Terlebih ketika mereka menunjukkan sebuah hakikat kehidupan sebenarnya. Untuk siapa seharusnya jiwa ini kupersembahkan. Untuk apa sebenarnya aku hidup, dan terlahir di dunia yang dulu kuanggap sebagai surga abadi, sebelum surga yang sebenarnya. Mereka memberitahuku, tentang siapa aku sebenarnya. Membuka mataku untuk melihat kenyataan saudara-saudara seimanku, yang kini juga sedang terpuruk, baik harga diri dan kehormatannya. Aku menyaksikan mereka terbujuk oleh nafsu dan kenikmatan palsu. Persis dengan apa yang aku rasakan di masa lalu. Mereka tidak sadar, bahwa agama dan diri mereka sedang dirong-rong dan dihancurkan oleh musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla. Lagi-lagi aku dibuat membisu. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, apakah kematian adalah jawabnya? Bukan Sahabatku, karena di kehidupan sebenarnya nanti, kita akan dimintai atas apa yang telah kita lakukan dan tinggalkan. Namun di kehidupan yang fana ini, aku, engkau, dan kawan-kawankulah yang harus menyelamatkan agama dan umat kita.
Inilah cinta sejati. Cinta yang tak perlu kau tunggu, tapi akan mendatangimu. Cinta yang dulu ditebarkan oleh sang utusan Allah, Muhammad saw. Namun kini cahayanya semakin pudar karena pemeluknya tak lagi mau untuk hidup dibawah naungan Islam, agama yang hakiki, Sang Ideologi sejati. Mereka lebih memilih memperturutkan hawa nafsunya dengan mengikuti seruan kamu kafir dan munafik, yang justru akan menikam mereka. Yang justru akan menjauhkan mereka dari ampunan dan rahmat Sang Pencipta. Sahabatku, terjagalah dari segala maksiat, kehinaan dan nafsu dunia yang sesat dan sesaat. Sadarilah, bahwa hidup ini bukan kisah Cinderella ataupun keputus asaan kisah cinta buta Siti Nurbaya. Kehidupan tak dapat diukur. Namun yakinlah, bersama Allah semua akan teratur. Segera bangkit dan lepaskanlah belantara dunia yang kelam, tuk meraih kemuliaan cahaya Allah yang terang.
Sahabatku yang kucintai, harus menunggu siapa lagi untuk membenahi kehidupan ini? Berombalah untuk menjadi insan pilihan Allah sebagai pengemban agama-Nya, dengan menjadi ksatria jihad dan dakwah di jalan-Nya. Bersama jiwa-jiwa yang selalu haus akan ibadah dan niat yang suci dalam perjuangan ini, kita saling mengisi layaknya matahari dan rembulan dengan bingkai ikhlas dan keshalihan. Yakinlah atas janji yang telah diucapkan oleh Allah dan Rasulullah. Dunia tak kan berakhir dalam kegelapan, sebelum kembali terang, sebelum kita, umat Islam mengenyam kemenangan dan merasakan rahmat-Nya yang dahsyat. Mari bersama bergerak dalam dakwah, dan jadikanlah bumi kembali terang dengan cahaya Islam. Raihlah kemuliaan yang sudah digariskan dalam ketentuan Allah Subhanahu wa ta’ala. Teruslah berjuang karena Ridho-Nya telah menantimu. Yakinlah, pertolongan-Nya ‘kan datang sebentar lagi. Tetaplah ikhlas dan istiqomah demi tegaknya kembali syariat di muka bumi, hingga rambut kita memutih, hingga ajal kan datang menjemput diri ini.(dias)
Label:
Features
Menjadi Pribadi Yang Lebih Berarti
Manusia, sosok makhluk yang sangat unik dan kompleks. Sosok yang sangat berbeda dengan mesin atau komputer, yang berjalan linier. Terkadang, manusia dinyatakan sebagai materi atau benda. Percaya atau tidak, pada kenyataannya manusia memang berbentuk, bisa diraba dan diindera secara langsung. Demikian pula dengan segala aktifitas yang dilakukan manusia, juga dapat dilihat secara kasat mata.
Untuk memunculkan gambaran yang jelas tentang manusia, maka manusia harus dikaji sebagai sesuatu yang mendalam dan menyeluruh. Dalam hal ini, tidak mungkin untuk memahami manusia secara parsial. Jalan untuk memahami manusia adalah dengan memahami potensi yang dimilikinya, yang akan sangat mempengaruhi setiap sendi kehidupannya.
Seringkali kita melihat bagaimana makhluk hidup bertahan dengan memenuhi kebutuhan jasmaninya. Ketika seekor hewan mau melakukan perintah dari sang pawang, maka dia akan mendapatkan makanan yang merupakan kebutuhan jasmani. Hal ini, merupakan insting dari hewan tersebut untuk mau melakukan perintah. Sedangkan bila hewan tersebut tidak mau melakukan perintah, maka dia tidak akan mendapatkan makanan, atau malah akan mendapat hukuman. Selain itu sering kita saksikan kucing berburu tikus. Hal tersebut juga merupakan salah satu cara hewan untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya.
Pun demikian halnya dengan manusia, yang membutuhkan makan dan minum setiap hari,bernafas, istirahat, tidur, mandi dan membuang hajat juga dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmaninya (hajat al-udhowiyyah). Artinya, potensi kebutuhan jasmani ini dimiliki oleh semua makhluk hidup, yang semua itu lahir muncul dari pengaruh kerja organ-organ tubuh makhluk hidup, yang kebutuhannya harus dipenuhi. Jika kebutuhan ini tidak dipenuhi, maka akan membuat sakit ataupun kematian.
Ciri-ciri khusus lainnya, yang ada pada diri makhluk hidup adalah adanya fenomena yang timbul dari dalam diri manusia, yang juga menuntut untuk dipenuhi. Bedanya, kebutuhan ini tidak lahir dari pengaruh kerja organ tubuh makhluk hidup, melainkan karena adanya rangsangan dari luar tubuhnya. Fenomena inilah yang disebut dengan naluri (Gharaiz). Naluri-naluri yang dimiliki oleh makhluk hidup, termasuk manusia antara lain, naluri untuk mengagungkan sesuatu (Gharizah at-tadayyun), naluri untuk mempertahankan diri (Gharizah al-baqa’) dan naluri untuk melestarikan jenisnya (Ghariza an-nau).
Gharizah at-tadayyun, merupakan salah satu naluri manusia, yang salah satu pencerminannya adalah merasa bahwa dirinya lebih lemah dan ada suatu dzat yang jauh lebih kuat dari manusia, sehingga manusia melakukan penghambaan dan pengagungan kepada ”sesuatu” tersebut. Hal tersebut bisa jadi adalah penyembahan kepada berhala, sesama makhluk, ataupun kepada Allah swt. Sebagai contoh, apabila seseorang berada di tengah-tengah hutan rimba digelapnya malam, maka ia akan merasa bahwa dirinya lemah dan ia akan senantiasa mengharap pertolongan kepada Allah swt.
Sedangkan gharizah al-Baqa’ dapat tercermin tatkala manusia melindungi dirinya dari mara bahaya, ataupun ketika keselamatan dirinya terancam oleh sesuatu, misalnya ketika dipukul oleh orang lain. Hal lain yang menjadi pencerminan dari naluri ini adalah ketika seseorang ingin dilihat tampan atau cantik, ingin dikenal oleh lingkungan sekitarnya dan diakui jati dirinya oleh masyarakat.
Dan naluri yang ketiga adalah gharizah an-Nau’ lahir dengan fenomena, salah satunya adalah ketertarikan manusia dengan lawan jenisnya. Misal, seorang laki-laki menyukai wanita kemudian menikah dan memiliki keturunan. Atau fenomena yang lain adalah manusia menyayangi saudara dan teman-temannya, memelihara binatang dan lain sebagainya.
Dalam kehidupannya, tentu saja manusia memiliki dorongan untuk memenuhi potensi-potensi yang dimilikinya, yakni kebutuhan jasmani dan naluri. Namun demikian, terdapat perbedaan dalam pemenuhan antara kebutuhan jasmani dan naluri.
Dalam kehidupannya, tentu saja manusia memiliki dorongan untuk memenuhi potensi-potensi yang dimilikinya, yakni kebutuhan jasmani dan naluri. Namun demikian, terdapat perbedaan dalam pemenuhan antara kebutuhan jasmani dan naluri.
Perbedaan tersebut antara lain terletak pada sebab kemunculannya. Keinginan pemenuhan kebutuhan jasmani muncul dari dalam diri manusia. Misalnya, rasa lapar, haus dan mengantuk. Sedangkan pada pemenuhan naluri, penyebab atau stimulus datang dari luar, misalnya ketika ingin beribadah, dipukul ataupun tertarik ketika melihat sosok lawan jenis.
Perbedaan yang lain terletak pada kapan kebutuhan jasmani dan naluri harus dipenuhi. Dalam pemenuhan kebutuhan jasmani, manusia dituntut untuk segera memenuhinya. Jika tidak segera dipenuhi dalam jangka waktu tertentu, ia akan menyebabkan kematian pada manusia. Sebagai contoh, dalam jangka waktu beberapa hari, manusia dapat meninggal dunia apabila tidak makan dan minum. Namun, pada pemenuhan naluri, manusia tidak dituntut untuk segera menunaikannya. Hal ini terjadi karena, tidak dipenuhinya naluri hingga kapanpun, tidak akan menyebabkan kematian pada diri manusia. Tetapi, hanya rasa gelisah ketika tidak menunaikannya. Misalnya, seseorang tidak akan mati walaupun tidak menikah berpuluh-puluh tahun lamanya. Yang ada hanyalah perasaan gelisah dan kesepian saja.
Tidak dipungkiri lagi, bahwa manusia adalah makhluk hidup yang dikaruniai akal yang sempurna oleh Allah swt., yang darinya manusia mampu berpikir. Dan akal merupakan obyek yang sangat jelas untuk membedakan antara manusia dengan kutu, kura-kura, kucing ataupun kuda.Hal ini memastikan bahwa, manusia memiliki keunggulan yang sangat fantastis dibandingkan hewan maupun jin.
Dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan nalurinya, manusia akan menggunakan akalnya untuk memilih cara apa yang akan digunakannya. Pandangan baik dan buruk terhadap sesuatu inilah yang akan digunakannya dalam menyikapi persepsi dan sikap yang ada di lingkungannya. Yaitu sikap dan pandangan-pandangan untuk memenuhi naluri dan kebutuhan jasmani manusia.
Cara pandang manusia ini, sangat dipengaruhi oleh pemikiran mendasar (ideologi) yang diyakininya. Apabila ideologinya memandang sesuatu itu baik, maka ia juga memandangnya baik. Akan tetapi, jika ideologinya memandang sesuatu buruk, demikian juga dengannya. Sebagai contoh, apabila ideologinya memandang bahwa tujuan kehidupan ini adalah untuk beribadah kepada Allah, maka ia akan memandang dengan cara yang sama. Dan seseorang tidak akan menyukai pemikiran bahwa manusia memiliki kebebasan yang tidak terbatas, apabila ideologinya tidak memandang demikian.
Cara pandang manusia ini, sangat dipengaruhi oleh pemikiran mendasar (ideologi) yang diyakininya. Apabila ideologinya memandang sesuatu itu baik, maka ia juga memandangnya baik. Akan tetapi, jika ideologinya memandang sesuatu buruk, demikian juga dengannya. Sebagai contoh, apabila ideologinya memandang bahwa tujuan kehidupan ini adalah untuk beribadah kepada Allah, maka ia akan memandang dengan cara yang sama. Dan seseorang tidak akan menyukai pemikiran bahwa manusia memiliki kebebasan yang tidak terbatas, apabila ideologinya tidak memandang demikian.
Selain pola pikir (aqliyah) tersebut, manusia juga memiliki sebuah pola tingkah laku yang akan mencerminkan perbuatan-perbuatan atau tindakan nyata dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan jasmani maupun naluri. Pola tingkah laku (nafsiyah) ini, juga sangat dipengaruhi oleh ideologi yang diembannya. Setali tiga uang, apabila ideologi yang ia yakini memandang suatu tindakan adalah baik, maka iapun akan melakukan aktifitas tersebut. Demikian pula sebaliknya, ia tidak akan melakukan aktifitas tersebut apabila ideologi yang ia yakini tidak memperbolehkan suatu perbuatan untuk dikerjakan. Seseorang akan memenuhi kebutuhan jasmaninya, seperti makan dan minum adalah dengan makanan dan minuman serta cara yang diperbolehkan oleh ideologinya untuk dilakukan. Misalnya, seseorang akan meminum khamr, apabila ideologi yang ia emban memperbolehkan khamr untuk dikonsumsi. Atau, dalam memenuhi nalurinya, naluri mempertahankan jenis misalnya, ia akan menyalurkan hasrat seksualnya hanya dalam bingkai pernikahan, apabila ideologinya memerintahkan demikian.
Disadari atau tidak, ternyata apa-apa yang dilakukan oleh manusia dalam hidupnya adalah ”hanya” untuk memenuhi potensi-potensi yang ia miliki. Baik kebutuhan jasmani maupun naluri-nalurinya. Tingkah laku manusia tersebut itulah yang akhirnya dikenal dengan sebutan kepribadian. Dalam kehidupan masyarakat sekarang, muncullah berbagai standar dalam memandang kepribadian ini. Para ahli dari barat mempunyai penilaian bahwa tinggi rendahnya kepribadian manusia adalah dilihat dari nilai-nilai fisik dan non-fisik atau faktor eksternal dan faktor-faktor yang lain. Nilai fisik antara lain, postur tubuh, wajah, cara berjalan dan lain sebagainya. Nilai non fisik misalnya, warna kesukaan serta makanan dan minuman favorit. Faktor genetis, seperti orang tua yang cendekiawan, ahli dalam bidang seni dan akademis. Dan juga faktor eksternal yang lain, semisal tingkat pendidikan, status sosial di masyarakat, tingkat kesejahteraan ekonomi dan lain-lain.
Walhasil, nilai-nilai tersebut pun semakin mempengaruhi kaum Muslimin dalam memandang kemuliaan dan kerendahan nilai kepribadian pada diri seseorang maupun masyarakat. Sebagai contoh, Seseorang wanita yang santun, cantik dan ramah dalam berbicara dianggap berkepribadian baik, walaupun ia tidak menutup auratnya dan gemar bergaul bebas. Dengan adanya latar belakang kondisi seperti inilah maka pemahaman tentang makna kepribadian dan kepribadian Islam menjadi sesuatu yang penting, agar kaum muslimin memiliki sebuah kepribadian yang benar, mulia dan kokoh yang dibangun di atas nilai-nilai Aqidah Islam sebagaimana kepribadian Rasulullah SAW dan para sahabat yang mulia.
Jika realita ini dicermati dengan baik, maka akan ditemukan suatu penilaian bahwa, kepribadian seseorang ataupun masyarakat tidak dilihat dari tampan atau tidaknya seseorang, tinggi atau pendek tubuhnya, kaya atau miskin berasal dari keturunan ningrat atau rakyat jelata, ataupun darimana asal sukunya. Akan tetapi, kepribadian itu sendiri adalah perwujudan dari pola pikir (yakni bagaimana ia bersikap dan berpikir) dan pola sikap (yakni bagaimana ia bertingkah laku) yang keduanya telah dijelaskan diatas.
Setelah, kepribadian dipahami sebagai perwujudan dari pola pikir dan pola tingkah laku, maka akan ditemukan fakta bahwasanya pola pikir dan pola tingkah laku inilah yang menentukan corak kepribadian seseorang. Dan karena pola pikir dan pola tingkah laku ini sangat ditentukan oleh nilai dasar atau ideologi yang diyakininya, maka corak kepribadian seseorang memang sangat bergantung kepada ideologi/aqidah yang dianutnya.
Ideologi atau aqidah kapitalisme akan membentuk masyarakat berkepribadian kapitalisme-liberal. Ideologi sosialisme sudah pasti akan mencetak kepribadian sosialisme-komunis. Sedangkan ideologi/aqidah Islam seharusnya menjadikan kaum Muslimin yang memeluk dan meyakininya, memiliki kepribadian Islam.
Singkatnya, kepribadian (syakhshiyah} terbentuk dan pola pikir (aqliyah} dan pola tingkah laku (nafsiyah}, yang kedua komponen tersebut terpancar dari ideologi (aqidah aqliyah) yang khas/ tertentu. Dari sinilah maka ketika membahas tentang kepribadian Islam (Syakhshiyah Islamiyah} berarti berbicara tentang sejauh mana seseorang memiliki pola pikir yang Islami (Aqliyah Islamiyah) dan sejauh mana ia memiliki pola tingkah laku yang Islami (Nafsiyah Islamiyah}.
Aqliyah Islamiyah hanya akan terbentuk dan menjadi kuat bila ia memiliki keyakinan yang benar dan kokoh terhadap aqidah Islamiyah dan ia memiliki ilmu-ilmu ke-Islaman yang cukup untuk bersikap terhadap berbagai ide, pandangan, konsep dan pemikiran yang ada di masyarakat; dimana semua pandangan dan konsep tersebut distandarisasi dengan ilmu dan nilai-nilai Islami.
Sedangkan Nafsiyah Islamiyah hanya akan terbentuk dan menjadi kuat bila seseorang menjadikan aturan-aturan Islam sebagai cara dalam memenuhi kebutuhan biologisnya (makan, minum, berpakaian, dll,), maupun kebutuhan naluriahnya (beribadah, bergaul, bermasyarakat, berketurunan, dsb).
Jadi, seseorang dikatakan memiliki syakhshiyah Islamiyah, jika ia memiliki aqliyah Islamiyah dan nafsiyah Islamiyah. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa bersikap/berpikir atas dasar pola berpikir Islami dan orang-orang yang senantiasa memenuhi kebutuhan jasmani dan nalurinya sesuai dengan aturan Islam, tidak mengikuti hawa nafsunya semata. Terlepas apakah ia memiliki syakhshiyah Islamiyah yang kuat ataukah tidak, yang jelas ia telah memiliki syakhshiyah/kepribadian Islam. Hanya saja perlu dipahami disini, bahwa Islam tidak menganjurkan umatnya memiliki syakhshiyah Islamiyah sebatas ala kadamya saja. Islam membutuhkan orang-orang dengan syakhshiyah islamiyah yang kokoh, kuat aqidahnya, tinggi tingkat pemikirannya dan tinggi pula tingkat ketaatannya terhadap ajaran Islam. Jadi, penilaian baik tidaknya kepribadian seseorang bukan dinilai dari pandangan manusia dalam menilainya. Bisa jadi apa yang manusia pandang itu adalah suatu keburukan, tetapi menurut Allah adalah suatu kebaikan. Yang harus menjadi penegasan adalah, bahwa setiap pola pikir dan pola manusia harus dikembalikan dan didasarkan pada penilaian syara’ saja. Allah swt. Berfirman:
Artinya:
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(TQS:Al-Baqarah 216)
Untuk itu, perlu dilakukan upaya untuk memperkuat syakhshiyah Islamiyah adalah dengan cara meningkatakan aqliyah dan nafsiyah Islamiyahnya. Meningkatkan kualitas aqliyah islamiyah adalah dengan cara menambah khazanah ilmu-ilmu Islam (tsaqofah islamiyah); sebagimana dorongan Islam bagi umatnya untuk terns rnenuntut ilmu kapanpun dan dimanapun. Dengan ilmu Islam yang cukup seorang Muslim akan mampu menangkal berbagai bentuk pemikiran yang merusak dan bertentangan dengan Islam. la pun akan mampu mengembangkan ilmu-ilmu Islam bahkan dapat menjadi seorang Mujtahid atau Mujaddid. Allah SWT mengajarkan do'a kepada kita:
Artinya:
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (TQS Thaha:114)
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(TQS:Al-Baqarah 216)
Untuk itu, perlu dilakukan upaya untuk memperkuat syakhshiyah Islamiyah adalah dengan cara meningkatakan aqliyah dan nafsiyah Islamiyahnya. Meningkatkan kualitas aqliyah islamiyah adalah dengan cara menambah khazanah ilmu-ilmu Islam (tsaqofah islamiyah); sebagimana dorongan Islam bagi umatnya untuk terns rnenuntut ilmu kapanpun dan dimanapun. Dengan ilmu Islam yang cukup seorang Muslim akan mampu menangkal berbagai bentuk pemikiran yang merusak dan bertentangan dengan Islam. la pun akan mampu mengembangkan ilmu-ilmu Islam bahkan dapat menjadi seorang Mujtahid atau Mujaddid. Allah SWT mengajarkan do'a kepada kita:
Artinya:
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (TQS Thaha:114)
Adapun nafsiyah Islamiyah dapat ditingkatkan dengan selalu meiatih diri untuk berbuat taat, terikat dengan aturan Islam dalam segala hal dan melaksanakan amalan-amalan ibadah, baik yang wajib maupun yang sunah, serta membiasakan diri untuk meninggalkan yang makruh dan syubhat apalagi yang haram. Islam pun menganjurkan agar kita senantiasa berakhlak mulia, bersikap wara' dan qana'ah agar mampu menghilangkan kecenderungan yang buruk dan bertentangan dengan Islam. Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman:
"... dan tidaklah bertaqarrub (beramal) seorang hambaku dengan sesuatu yang lebih aku sukai seperti bila ia melakukan amalan fardlu yang Aku perintahkan atasnya, kemudian hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya." (HR Bukhari dari Abu Hurairah)
Allah SWT juga berfirman:
" Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. ". (TQS:AIBaqarah: 148)
Rasulullah SAW bersabda:
"Bagi seorang Muslim telah diwajibkan baginya bershodaqoh. Abu Musa bertanya: 'Bagaimana Jika ia tidak mendapatkan sesuatu untuk bershodaqoh?' Rasul menjawab: 'Ia harus berbuat dengan kedua tangannya, yang dapat mendatangkan manfaat bagi dirinya kemudian ia bershadaqoh. 'Bagaimana jika ia tidak berbuat demikian?' tanyaAbu Musa. Rasul menjawab: 'la harus menolong orang yang membutuhkannya' Bila ia tidak mampu? Jawab Rasul: 'Ia harus beramar ma'ruf dan mengajak kepada kebajikan'. Bagaimana bila ia tidak bisa melakukan itu? Rasu) menjawab: 'Menahan diri dan' keburukan (berbuat buruk) adalah shadaqah." (HR Bukharl dan Abu Musa)
" Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. ". (TQS:AIBaqarah: 148)
Rasulullah SAW bersabda:
"Bagi seorang Muslim telah diwajibkan baginya bershodaqoh. Abu Musa bertanya: 'Bagaimana Jika ia tidak mendapatkan sesuatu untuk bershodaqoh?' Rasul menjawab: 'Ia harus berbuat dengan kedua tangannya, yang dapat mendatangkan manfaat bagi dirinya kemudian ia bershadaqoh. 'Bagaimana jika ia tidak berbuat demikian?' tanyaAbu Musa. Rasul menjawab: 'la harus menolong orang yang membutuhkannya' Bila ia tidak mampu? Jawab Rasul: 'Ia harus beramar ma'ruf dan mengajak kepada kebajikan'. Bagaimana bila ia tidak bisa melakukan itu? Rasu) menjawab: 'Menahan diri dan' keburukan (berbuat buruk) adalah shadaqah." (HR Bukharl dan Abu Musa)
Dengan cara inilah syakhshiyah Islamiyah akan semakin meningkat, pemikiran Islamnya semakin cemerlang, jiwa islamnya semakin mantap dan istiqomah serta ia pun akan semakin dekat dengan Allah SWT.
Perlu diwaspadai adanya kekeliruan yang sering muncul di kalangan kaum muslimin, yaitu terkadang menggambarkan sosok pribadi Muslim sebagai sosok mulia tanpa cacat ibarat malaikat. pandangan seperti ini salah dan bisa berbahaya karena seolah kepribadian Muslim adalah hanya milik para Rasul dan tidak akan bisa diterapkan dalam realitas masyarakat.
Dengan demikian jelaslah bahwa pembentukan syakhshiyah Islamiyah dimulai dengan penetapan aqidah Islam pada diri seseorang. Kemudian aqidah tersebut difungsikan sebagai tolok ukur (miqyas) dalam setiap aktivitas berfikir dan dalam setiap aktivitas pemenuhan kebutuhan hidup. Dalam hal ini manusia tetap bisa berbuat salah dan maksiat, baik dalam masalah pemikiran maupun perbuatan. Artinya, suatu saat manusia dapat saja berbuat dosa dan lalai terhadap pemikiran maupun perbuatan yang Islami. Namun saat itu pula ia diingatkan untuk segera bertaubat dan kembali berupaya berbuat baik, sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya:
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS All Imron: 135)
Seorang yang memiliki syakhshiyah Islamiyah yang tangguh akan tampil mulia di tengah masyarakat dengan sifat-sifat khas dan unik. Dimana ia berada akan menjadi pusat perhatian karena ketinggian ilmu dan kekuatan jiwanya. Allah SWT telah menggambarkan sosok-sosok pribadi muslim itu dalam berbagai ayat Al Qur'an, antara lain: QS At Taubah: 100, Al Mukminun: 1-11, Al Furqon: 63-74, dsb.
Dengan demikian jelaslah bahwa pembentukan syakhshiyah Islamiyah dimulai dengan penetapan aqidah Islam pada diri seseorang. Kemudian aqidah tersebut difungsikan sebagai tolok ukur (miqyas) dalam setiap aktivitas berfikir dan dalam setiap aktivitas pemenuhan kebutuhan hidup. Dalam hal ini manusia tetap bisa berbuat salah dan maksiat, baik dalam masalah pemikiran maupun perbuatan. Artinya, suatu saat manusia dapat saja berbuat dosa dan lalai terhadap pemikiran maupun perbuatan yang Islami. Namun saat itu pula ia diingatkan untuk segera bertaubat dan kembali berupaya berbuat baik, sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya:
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS All Imron: 135)
Seorang yang memiliki syakhshiyah Islamiyah yang tangguh akan tampil mulia di tengah masyarakat dengan sifat-sifat khas dan unik. Dimana ia berada akan menjadi pusat perhatian karena ketinggian ilmu dan kekuatan jiwanya. Allah SWT telah menggambarkan sosok-sosok pribadi muslim itu dalam berbagai ayat Al Qur'an, antara lain: QS At Taubah: 100, Al Mukminun: 1-11, Al Furqon: 63-74, dsb.
Meski sifat khas kepribadian Islam itu tidak ada kaitannya dengan penampilan fisik seseorang, namun Islam juga menganjurkan agar umatnya selalu menjaga penampilan fisik, keindahan dan kebersihan; sebagaimana dalam hadits berikut:
"Jika kalian mengunjungi saudaramu maka perbaikilah kendaraanmu dan perindahlah pakaianmu, sehingga seolah kalian bagaikan tahi lalat {kesan keindahan yang mudah dikenali) diantara manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai hal-hal yang buruk." (HR Abu Dawud)
Islam telah menjadikan din Rasulullah SAW dan para shahabatnya sebagai orang-orang dengan kepribadian Islam yang paripuma dan kokoh, sebagai teladan tepat bagi seluruh kaum Muslimin. Tidak ada contoh terbaik selain mereka dan orang-orang yang juga mencontoh mereka. Karenanya seorang Muslim haram menjadikan kepribadian Barat sebagai teladan bagi standarisasi kepribadian yang mulia dan kepribadian yang buruk.(diaz)
Label:
Features
Ibuku, harapanku
Pening, bimbang, sedih, semua perasaan bercampur menjadi satu. Seorang gadis nampak berdiri disamping ibunya. Gadis itu juga memasang raut muka tegang, menandakan perasaan bingung sedang melandanya. Beberapa saat kemudian, juri menyatakan bahwa gadis tersebut masih bisa tampil minggu depan.
Tangis haru, bercampur perasaan yang lega, kini telah mewarnai hatinya. Berhasil selamat minggu ini, berarti masih ada kesempatan untuk menjadi juara. Ibu, yang selama ini menjadi manajer untuk dirinya, ternyata benar-benar bisa diandalkan. Mulai dari tata rias, gaya rambut dan busana hingga pilihan lagu untuk dinyanyikan, berhasil dipenuhi berdasarkan standar oleh sang manajer. Kontes ini tidak hanya mengandalkan teknik olah vokal yang baik. Penampilan melenggak-lenggok diatas panggung pun menjadi perhitungan bagi para juri. Tentu saja kecantikan dengan memamerkan aurat dan berhias habis-habisan menjadi syarat mutlak untuk bisa berdendang diatas panggung. Sang ibu, tentu ingin anaknya tampil sebaik-baiknya. Hingga semua akan dikorbankan demi anaknya bisa menjadi yang terbaik.
Namun, apakah dengan menjadi yang terbaik dalam kontes itu, bisa menjadikan mereka berdua meraih kebahagiaan sebenarnya? Akankah ratusan anak di negeri ini keblinger dan ingin meraih mahkota sebagai penyanyi terbaik? Ibu, yang seharusnya bisa mengantarkan anaknya kepada ridho Allah, malah menggandeng putrinya ke dalam jurang kegelapan. Apakah mata kita sudah tertutup, sehingga membiarkan kehormatan saudari kita diumbar seenaknya?
Wahai ibu, engkaulah harapanku! (Artikel ini adalah tulisan saya, yang diterbikan di majalah Greensoul vol.5)
Tangis haru, bercampur perasaan yang lega, kini telah mewarnai hatinya. Berhasil selamat minggu ini, berarti masih ada kesempatan untuk menjadi juara. Ibu, yang selama ini menjadi manajer untuk dirinya, ternyata benar-benar bisa diandalkan. Mulai dari tata rias, gaya rambut dan busana hingga pilihan lagu untuk dinyanyikan, berhasil dipenuhi berdasarkan standar oleh sang manajer. Kontes ini tidak hanya mengandalkan teknik olah vokal yang baik. Penampilan melenggak-lenggok diatas panggung pun menjadi perhitungan bagi para juri. Tentu saja kecantikan dengan memamerkan aurat dan berhias habis-habisan menjadi syarat mutlak untuk bisa berdendang diatas panggung. Sang ibu, tentu ingin anaknya tampil sebaik-baiknya. Hingga semua akan dikorbankan demi anaknya bisa menjadi yang terbaik.
Namun, apakah dengan menjadi yang terbaik dalam kontes itu, bisa menjadikan mereka berdua meraih kebahagiaan sebenarnya? Akankah ratusan anak di negeri ini keblinger dan ingin meraih mahkota sebagai penyanyi terbaik? Ibu, yang seharusnya bisa mengantarkan anaknya kepada ridho Allah, malah menggandeng putrinya ke dalam jurang kegelapan. Apakah mata kita sudah tertutup, sehingga membiarkan kehormatan saudari kita diumbar seenaknya?
Wahai ibu, engkaulah harapanku! (Artikel ini adalah tulisan saya, yang diterbikan di majalah Greensoul vol.5)
Label:
Features
Mayoritas bukan Berarti Bebas

Beberapa dekade ini, nampaknya dunia sudah mulai terbalik ya? yang diatas jadi dibawah, yang dibawah jadi dias, ups diatas maksudnya (hee..he.. narsis mode on nih). ehem, kembali ke jalan yang benar. Dizaman ini, segalanya jadi tidak karuan. Sesuatu tidak diletakkan pada tempatnya. yang salah dijunjung dan dibanggakan, sementara kebenaran ditelantarkan.
Apalagi, jika kita berbicara tentang kaum muslimin. bagaikan tubuh disiksa, tumbuh duri dalam daging pula. Dari luar diterpa pemikiran dan gaya hidup sekuler, dari dalam enggan untuk belajar Islam. Terlebih banyak informasi yang masuk kedalam diri kaum muslimin adalah informasi yang menjauhkan diri dari Khaliqnya. Ditambah agen-agen kafir yang disuntikkan kedalam tubuh kaum muslimin. Orang-orang yang rela menjual aqidah dan keimanannya, hanya untuk mendapatkan harta, tahta ataupun wanita. Na'udzubillah, Rasulullah dulu bahkan menantang kaum kafir Quraisy untuk menghadiahi bulan dan matahari. seandainya bisa pun, Rasulullah tak akan menghentikan dakwahnya. Tapi apa yang dilakukan oleh tokoh, ulama, ustadz, kyai atau apapun namanya, dimana mereka membawa nama Islam, namun menyajikan pemikiran yang justru menjatuhkan Islam. Tidakkah mereka ingat, jika kelak mereka akan dimintai pertanggungjawaban terlebih dahulu?
Ada satu peristiwa yang membuat saya tertegun. Peristiwa ini terjadi pada saat radio tempat saya bekerja sedang diuji kelayakannya dan diaudit. dalam regulasi perundangan penyiaran, ternyata disana muatan agama (baca:islam) hanya diberi porsi sebesar 30 persen saja. ya, itulah kenyataannya. dan sebuah media komersial (jika mau diakui dimata hukum sebagai media yang berhak menerima iklan dan sponsor sebagai pendapatannya) harus menayangkan segala bentuk siaran yang mencakup seluruh kalangan. Dengan kata lain, tidak memihak suatu suku, agama, ras tertentu. Saya bertanya,"Hah, 30 persen?" artinya lebih dari separo asupan informasi yang kita dapatkan bukanlah informasi yang Islami. Katanya, umat muslim mayoritas. Tapi mengapa kepentingannya dikebiri? Adakah ini sebuah skenario "BIG CRUSSADERS"? Skenario dari perang Salib yang tertuah beberapa abad yang lalu. Bahwa kaum kafir, lebih akan melakukan pemurtadan maya, artinya bukan untuk memindahkan agama seseorang tetapi bagaimana agar kaum muslimin berkiblat pada barat dalam hal kepribadian dan tolok ukur baik buruk sesuatu.
Inilah cita-cita para punggawa Yahudi puluhan tahun yang lalu. Umat Islam tidak harus berpindah agama. Tetapi cukup menjadikan budaya dan pemikiran barat sebagai "Agama" kita. Para remaja tidak perlu datang ke gereja, tapi menjadikan grup band Greenday sebagai sahabat. Tidak perlu ikut misa natal, tapi cukup merayakan Valentine's Day. Tidak perlu bernyanyi haleluya, tetapi cukup dengan menenggak sebotol Carlsberg ataupun Heineken. Di media, digambarkan bahwa dengan meminum minuman seperti itu, seorang lelaki akan menjadi keren. Padahal, kalo menurut Islam, menenggak minuman haram, sholatnya ga diterima empat puluh hari empat puluh malam! Atau, dengan menggembar-gemborkan bahwa pacaran itu keren, kalo ga punya pacar itu basi. Ga laku! Padahal, Islam melarang untuk mendekati zina. Nah, hal-hal seperti ini yang sebetulnya lebih berbahaya dari pemurtadan. Kalo orang murtad, jelas kelihatan. Tapi kalo yang begini, ngakunya muslim, tapi kelakuannya petikalan ga karuan. Syariat Allah diserobot demi dapat pengakuan sebagai anak gaul seperti di tivi.
Belum lagi masalah perpolitikan hingga perkawinan. Sistem politik dan perundangan yang tidak menggunakan syariat Islam sebagai landasannya, menjadikan kaum muslimin tidak dapat beribadah sesuai tuntunan Rasulullah. Masih ingatkah sahabat sekalian dengan peristiwa Ahmadiyah? karena masalah kebebasan beragama, mereka lolos dari jerat hukum. Padahal, orang yang mengaku sebagai nabi baru, harusnya dipenggal oleh kepala negara. Lainnya, ingatkah dengan kasus Hari Raya yang nyleneh. Seakan ingin memecah belah umat Islam, pemerintah seringkali memutuskan untuk tidak mengikuti hasil ru'yatul hilal dunia. padahal, jika ada seorang melihat hilal, dan dia adalah orang yang dapat dipercaya, maka seluruh kaum muslimin se-antero jagad raya, harusnya udah pada lebaran. Tapi lihatlah, demi kepentingan sesaat pemerintah dan antek-antek kapitalis lainnya mengotak-atik keputusan itu. Lalu yang menadi korban? tentu kaum muslimin.
Kasus lain adaah pelarangan menikah lebih dari satu. Padahal al-Quran jelas membolehkan laki-laki untuk menikah hingga empat orang dengan syarat mampu berbuat adil. Dan seharusnya, tanpa tedeng aling-aling, siapapun dia selama dia beriman kepada Allah, harus mengimaninya. Toh, dengan dinikahi wanita derajatnya menjadi lebih mulia, kehormatannya terjaga, dan kebutuhannya baik fisik maupun biologis dapat terpenuhi? lihatlah bagaimana pelacur (maaf rada kasar) diperbolehkan untuk beroperasi. Bahkan di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini terdapat lokalisasi pelacuran terbesar se-Asia Tenggara. Mengapa yang haram difasilitasi, dan yang halal malah dilarang? Umat muslim macam apa ini?
Sahabat, kita ini saudara atau apa?Lihatlah, bagaimana rezim-rezim pemimpin negeri muslim diam saja terhadap pembantaian orang-orang Yahudi Israel dan Amerika beserta sekutunya di Gaza, Iraq, Afghanistan dan negeri-negeri lainnya. Lihatlah apa yang dilakukan oleh para pemimpin di negeri muslim? termasuk yang mengaku-ngaku sebagai partai Islam, mereka malah berkompromi dengan Washington, berkompromin dengan demokrasi yang jeas, itu adalah sistem kufur yang haram untuk mengambilnya. Wahai saudaraku yang duduk di parlemen, kabinet dan pemegang tampuk kekuasaan. Ingatlah, kalian akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat atas apa yang kalian putuskan. Sahabat, Apalah arti mayoritas, berjumlah banyak namun sama seperti buih di lautan? bukankah tidak berpengaruh apa-apa?
Inilah sahabat, kondisi yang benar-benar ada dan harus kita hadapi. Tentu kita tidak bisa tinggal diam. Adalah tugas kita bersama, untuk memberikan penyadaran kepada umat, agar bisa memilih dan menyaring informasi yang masuk. Terlebih lagi, harus ada media-media yang islami untuk konsumsi kaum muslim. Walaupun sulit, ya harus tetap berjuang. Dan yang paling penting, sistem di negeri ini kudu diganti dengan sistem yang islami. Sistem yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Jadi, Islam bukan hanya ngurusin sholat dan zakat. Tetapi setiap sendi kehidupan juga ditata dengan syariat-syariat Islam. Itulah kehebatan Islam. Mulai dari mengurus bayi, hingga menonton tayangan televisi semuanya diatur.
Seluruh alam sudah menjawab. Menjawab dengan berjuta bencana yang melanda. Masihkah kita tinggal diam dengan kondisi ini? Apakah kita masih menunggu bencana yang lebih besar datang kepada kita? Ingatlah sahabat, Allah tetaplah Khaliq, walau kita acuhkan perintah-Nya. Islam akan menang walau tanpa perjuangan kita. Kaum muslimin akan tetap berjaya walau sekarang kita memalingkan muka. Tapi sahabat, yang harus kita khawatirkan adalah diri kita sendiri. Mengkhawatirkan apabila kita telah berada di Yaumul Hisab nanti. Jika kita memilih untuk diam, siapkah kita mempertanggungjawabkannya? Oleh karena itu sahabat, itu semua pilihan kita. Mau berjuang melakukan perubahan dan mulia? atau diam saja dan terhina?
Wahai sahabatku, apalagi yang kita tunggu. Kita memiliki al-Quran, Kita memiliki Agama yang Haq, Kita memiliki pemuda, Kita memiliki negeri-negeri, Kita memiliki sumberdaya dan tenaga yang besar, Kita memiliki jumlah penduduk yang banyak. Yang kita butuhkan hanya KESATUAN POLITIK. Hanya syariah dibawah naungan Daulah Khilafah yang dapat menjadikan kita lebih berarti. Mari bersama berjuang, kembalikan kemuliaan Islam, untuk kehidupan yang lebih bermartabat![diaz]
Apalagi, jika kita berbicara tentang kaum muslimin. bagaikan tubuh disiksa, tumbuh duri dalam daging pula. Dari luar diterpa pemikiran dan gaya hidup sekuler, dari dalam enggan untuk belajar Islam. Terlebih banyak informasi yang masuk kedalam diri kaum muslimin adalah informasi yang menjauhkan diri dari Khaliqnya. Ditambah agen-agen kafir yang disuntikkan kedalam tubuh kaum muslimin. Orang-orang yang rela menjual aqidah dan keimanannya, hanya untuk mendapatkan harta, tahta ataupun wanita. Na'udzubillah, Rasulullah dulu bahkan menantang kaum kafir Quraisy untuk menghadiahi bulan dan matahari. seandainya bisa pun, Rasulullah tak akan menghentikan dakwahnya. Tapi apa yang dilakukan oleh tokoh, ulama, ustadz, kyai atau apapun namanya, dimana mereka membawa nama Islam, namun menyajikan pemikiran yang justru menjatuhkan Islam. Tidakkah mereka ingat, jika kelak mereka akan dimintai pertanggungjawaban terlebih dahulu?
Ada satu peristiwa yang membuat saya tertegun. Peristiwa ini terjadi pada saat radio tempat saya bekerja sedang diuji kelayakannya dan diaudit. dalam regulasi perundangan penyiaran, ternyata disana muatan agama (baca:islam) hanya diberi porsi sebesar 30 persen saja. ya, itulah kenyataannya. dan sebuah media komersial (jika mau diakui dimata hukum sebagai media yang berhak menerima iklan dan sponsor sebagai pendapatannya) harus menayangkan segala bentuk siaran yang mencakup seluruh kalangan. Dengan kata lain, tidak memihak suatu suku, agama, ras tertentu. Saya bertanya,"Hah, 30 persen?" artinya lebih dari separo asupan informasi yang kita dapatkan bukanlah informasi yang Islami. Katanya, umat muslim mayoritas. Tapi mengapa kepentingannya dikebiri? Adakah ini sebuah skenario "BIG CRUSSADERS"? Skenario dari perang Salib yang tertuah beberapa abad yang lalu. Bahwa kaum kafir, lebih akan melakukan pemurtadan maya, artinya bukan untuk memindahkan agama seseorang tetapi bagaimana agar kaum muslimin berkiblat pada barat dalam hal kepribadian dan tolok ukur baik buruk sesuatu.
Inilah cita-cita para punggawa Yahudi puluhan tahun yang lalu. Umat Islam tidak harus berpindah agama. Tetapi cukup menjadikan budaya dan pemikiran barat sebagai "Agama" kita. Para remaja tidak perlu datang ke gereja, tapi menjadikan grup band Greenday sebagai sahabat. Tidak perlu ikut misa natal, tapi cukup merayakan Valentine's Day. Tidak perlu bernyanyi haleluya, tetapi cukup dengan menenggak sebotol Carlsberg ataupun Heineken. Di media, digambarkan bahwa dengan meminum minuman seperti itu, seorang lelaki akan menjadi keren. Padahal, kalo menurut Islam, menenggak minuman haram, sholatnya ga diterima empat puluh hari empat puluh malam! Atau, dengan menggembar-gemborkan bahwa pacaran itu keren, kalo ga punya pacar itu basi. Ga laku! Padahal, Islam melarang untuk mendekati zina. Nah, hal-hal seperti ini yang sebetulnya lebih berbahaya dari pemurtadan. Kalo orang murtad, jelas kelihatan. Tapi kalo yang begini, ngakunya muslim, tapi kelakuannya petikalan ga karuan. Syariat Allah diserobot demi dapat pengakuan sebagai anak gaul seperti di tivi.
Belum lagi masalah perpolitikan hingga perkawinan. Sistem politik dan perundangan yang tidak menggunakan syariat Islam sebagai landasannya, menjadikan kaum muslimin tidak dapat beribadah sesuai tuntunan Rasulullah. Masih ingatkah sahabat sekalian dengan peristiwa Ahmadiyah? karena masalah kebebasan beragama, mereka lolos dari jerat hukum. Padahal, orang yang mengaku sebagai nabi baru, harusnya dipenggal oleh kepala negara. Lainnya, ingatkah dengan kasus Hari Raya yang nyleneh. Seakan ingin memecah belah umat Islam, pemerintah seringkali memutuskan untuk tidak mengikuti hasil ru'yatul hilal dunia. padahal, jika ada seorang melihat hilal, dan dia adalah orang yang dapat dipercaya, maka seluruh kaum muslimin se-antero jagad raya, harusnya udah pada lebaran. Tapi lihatlah, demi kepentingan sesaat pemerintah dan antek-antek kapitalis lainnya mengotak-atik keputusan itu. Lalu yang menadi korban? tentu kaum muslimin.
Kasus lain adaah pelarangan menikah lebih dari satu. Padahal al-Quran jelas membolehkan laki-laki untuk menikah hingga empat orang dengan syarat mampu berbuat adil. Dan seharusnya, tanpa tedeng aling-aling, siapapun dia selama dia beriman kepada Allah, harus mengimaninya. Toh, dengan dinikahi wanita derajatnya menjadi lebih mulia, kehormatannya terjaga, dan kebutuhannya baik fisik maupun biologis dapat terpenuhi? lihatlah bagaimana pelacur (maaf rada kasar) diperbolehkan untuk beroperasi. Bahkan di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini terdapat lokalisasi pelacuran terbesar se-Asia Tenggara. Mengapa yang haram difasilitasi, dan yang halal malah dilarang? Umat muslim macam apa ini?
Sahabat, kita ini saudara atau apa?Lihatlah, bagaimana rezim-rezim pemimpin negeri muslim diam saja terhadap pembantaian orang-orang Yahudi Israel dan Amerika beserta sekutunya di Gaza, Iraq, Afghanistan dan negeri-negeri lainnya. Lihatlah apa yang dilakukan oleh para pemimpin di negeri muslim? termasuk yang mengaku-ngaku sebagai partai Islam, mereka malah berkompromi dengan Washington, berkompromin dengan demokrasi yang jeas, itu adalah sistem kufur yang haram untuk mengambilnya. Wahai saudaraku yang duduk di parlemen, kabinet dan pemegang tampuk kekuasaan. Ingatlah, kalian akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat atas apa yang kalian putuskan. Sahabat, Apalah arti mayoritas, berjumlah banyak namun sama seperti buih di lautan? bukankah tidak berpengaruh apa-apa?
Inilah sahabat, kondisi yang benar-benar ada dan harus kita hadapi. Tentu kita tidak bisa tinggal diam. Adalah tugas kita bersama, untuk memberikan penyadaran kepada umat, agar bisa memilih dan menyaring informasi yang masuk. Terlebih lagi, harus ada media-media yang islami untuk konsumsi kaum muslim. Walaupun sulit, ya harus tetap berjuang. Dan yang paling penting, sistem di negeri ini kudu diganti dengan sistem yang islami. Sistem yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Jadi, Islam bukan hanya ngurusin sholat dan zakat. Tetapi setiap sendi kehidupan juga ditata dengan syariat-syariat Islam. Itulah kehebatan Islam. Mulai dari mengurus bayi, hingga menonton tayangan televisi semuanya diatur.
Seluruh alam sudah menjawab. Menjawab dengan berjuta bencana yang melanda. Masihkah kita tinggal diam dengan kondisi ini? Apakah kita masih menunggu bencana yang lebih besar datang kepada kita? Ingatlah sahabat, Allah tetaplah Khaliq, walau kita acuhkan perintah-Nya. Islam akan menang walau tanpa perjuangan kita. Kaum muslimin akan tetap berjaya walau sekarang kita memalingkan muka. Tapi sahabat, yang harus kita khawatirkan adalah diri kita sendiri. Mengkhawatirkan apabila kita telah berada di Yaumul Hisab nanti. Jika kita memilih untuk diam, siapkah kita mempertanggungjawabkannya? Oleh karena itu sahabat, itu semua pilihan kita. Mau berjuang melakukan perubahan dan mulia? atau diam saja dan terhina?
Wahai sahabatku, apalagi yang kita tunggu. Kita memiliki al-Quran, Kita memiliki Agama yang Haq, Kita memiliki pemuda, Kita memiliki negeri-negeri, Kita memiliki sumberdaya dan tenaga yang besar, Kita memiliki jumlah penduduk yang banyak. Yang kita butuhkan hanya KESATUAN POLITIK. Hanya syariah dibawah naungan Daulah Khilafah yang dapat menjadikan kita lebih berarti. Mari bersama berjuang, kembalikan kemuliaan Islam, untuk kehidupan yang lebih bermartabat![diaz]
Label:
Features
Diaz Menyapa dengan Bismillah

Bismillahirrahmanirrahim,
Segala Puji bagi Allah, sang Pelindung, sang Pemberi Kehidupan dan Kebahagiaan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabiyullah Muhammad saw. sahabat, keluarga dan ummatnya yang setia membela risalah Islam hingga kiamat nanti.
Akhirnya, setelah beberapa blog pribadi saya tidak terurusi, malam ini timbul keinginan untuk berbagi hikmah, ibrah, inspirasi serta motivasi, walau hanya sepiring. Maha Besar Allah dengan segala firman-Nya, memberikan banyak ilmu kepada manusia yang takkan pernah semuanya bisa kita kuasai. Ya Allah, kami hanya debu di hamparan bumi-Mu yang luas. Tiada daya dan upaya yang bisa kami lakukan tanpa pertolongan-Mu.
Sahabat, kehidupan saat ini yang sudah jauh dari suasana bahagia, nampaknya harus kita beri perhatian. Kehidupan dimana alam telah memberontak karena tidak diperlakukan selayaknya, kehidupan dimana kepala jadi kaki dan tangan menjadi tak punya malu, memang wajib untuk segera kita evaluasi. Mungkinkah telah banyak ayat-ayat yang kita pungkiri? Benarkah puluhan rambu-rambu sang Khaliq telah kita terobos? Atau, sudahkah manusia merasa menjadi makhluk yang tidak terkalahkan, hingga siapapun dilarang untuk mencegah hawa nafsu berkembang?
Sahabat, jika semua pertanyaan diatas kita jawab dengan "iya", sepertinya manusia harus berpikir sejenak. Sebelum semuanya terlambat, marilah kita kembali berkaca pada cermin jiwa dan membaca kembali buku harian kita, dan saksikan apa yang sudah kita lakukan, sebagai makhluk yang mengaku hamba Allah.
Sahabat, mari kita bersihkan diri dan mengisinya dengan keharuman ayat-ayat Allah. Menghiasi hari dengan meneladani manusia terbaik di dunia, Muhammad saw putera Abdullah bin Abdul Muthalib. Mengangkat kembali martabat kehidupan yang telah mati menuju dunia yang penuh rahmat. Dari sebuah kehinaan, menjadi kemuliaan. Dari suram menjadi kemilau nan indah. Dan dari kekufuran menjadi keimanan.
Sahabat yang kucintai karena Allah, cukup sudah. Hentikan lirikan matamu dari sesuatu yang nampak indah namun membawa kehancuran. Yang beraroma harum, tetapi racun mematikan. Yang cantik namun menjerumuskan. Palingkan pandanganmu hanya kepada satu permata yang 'kan menerangi kehidupan. Ya, itulah Islam. Satu dan tiada yang lain, akan membawa manusia dan semesta meraih kemuliaan. Menjadikan yang terpuruk menjadi terangkat martabatnya. Permata yang akan membawa kita, menuju keindahan dan bahagia sebenarnya di dalam Jannah.
Demikian sahabatku, sebuah sapaan awal sebagai sambutan permulaan. dikemudian hari Insya Allah, akan hadir tulisan-tulisan lain yang tentu akan memberi inspirasi dan motivasi untuk kita semua agar semakin dekat kepada Allah. artikel-artikel yang akan saya muat, sebagian adalah hasil tulisan saya yang dimuat di majalah remaja Greensoul, terbitan Lembaga Dakwah Remaja KiaSs (Kreatifitas Insan Shalih dan Shalihah), serta hasil dari siaran saya di Radio Mitra 97 FM dalam program Enjoy Mitra dan Hikmah Malam. Sekian dulu dari saya, salam Sukses dua dunia.
Wassalamualaikum wr wb.
Segala Puji bagi Allah, sang Pelindung, sang Pemberi Kehidupan dan Kebahagiaan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabiyullah Muhammad saw. sahabat, keluarga dan ummatnya yang setia membela risalah Islam hingga kiamat nanti.
Akhirnya, setelah beberapa blog pribadi saya tidak terurusi, malam ini timbul keinginan untuk berbagi hikmah, ibrah, inspirasi serta motivasi, walau hanya sepiring. Maha Besar Allah dengan segala firman-Nya, memberikan banyak ilmu kepada manusia yang takkan pernah semuanya bisa kita kuasai. Ya Allah, kami hanya debu di hamparan bumi-Mu yang luas. Tiada daya dan upaya yang bisa kami lakukan tanpa pertolongan-Mu.
Sahabat, kehidupan saat ini yang sudah jauh dari suasana bahagia, nampaknya harus kita beri perhatian. Kehidupan dimana alam telah memberontak karena tidak diperlakukan selayaknya, kehidupan dimana kepala jadi kaki dan tangan menjadi tak punya malu, memang wajib untuk segera kita evaluasi. Mungkinkah telah banyak ayat-ayat yang kita pungkiri? Benarkah puluhan rambu-rambu sang Khaliq telah kita terobos? Atau, sudahkah manusia merasa menjadi makhluk yang tidak terkalahkan, hingga siapapun dilarang untuk mencegah hawa nafsu berkembang?
Sahabat, jika semua pertanyaan diatas kita jawab dengan "iya", sepertinya manusia harus berpikir sejenak. Sebelum semuanya terlambat, marilah kita kembali berkaca pada cermin jiwa dan membaca kembali buku harian kita, dan saksikan apa yang sudah kita lakukan, sebagai makhluk yang mengaku hamba Allah.
Sahabat, mari kita bersihkan diri dan mengisinya dengan keharuman ayat-ayat Allah. Menghiasi hari dengan meneladani manusia terbaik di dunia, Muhammad saw putera Abdullah bin Abdul Muthalib. Mengangkat kembali martabat kehidupan yang telah mati menuju dunia yang penuh rahmat. Dari sebuah kehinaan, menjadi kemuliaan. Dari suram menjadi kemilau nan indah. Dan dari kekufuran menjadi keimanan.
Sahabat yang kucintai karena Allah, cukup sudah. Hentikan lirikan matamu dari sesuatu yang nampak indah namun membawa kehancuran. Yang beraroma harum, tetapi racun mematikan. Yang cantik namun menjerumuskan. Palingkan pandanganmu hanya kepada satu permata yang 'kan menerangi kehidupan. Ya, itulah Islam. Satu dan tiada yang lain, akan membawa manusia dan semesta meraih kemuliaan. Menjadikan yang terpuruk menjadi terangkat martabatnya. Permata yang akan membawa kita, menuju keindahan dan bahagia sebenarnya di dalam Jannah.
Demikian sahabatku, sebuah sapaan awal sebagai sambutan permulaan. dikemudian hari Insya Allah, akan hadir tulisan-tulisan lain yang tentu akan memberi inspirasi dan motivasi untuk kita semua agar semakin dekat kepada Allah. artikel-artikel yang akan saya muat, sebagian adalah hasil tulisan saya yang dimuat di majalah remaja Greensoul, terbitan Lembaga Dakwah Remaja KiaSs (Kreatifitas Insan Shalih dan Shalihah), serta hasil dari siaran saya di Radio Mitra 97 FM dalam program Enjoy Mitra dan Hikmah Malam. Sekian dulu dari saya, salam Sukses dua dunia.
Wassalamualaikum wr wb.
Label:
Greetings
Langganan:
Komentar (Atom)
Category
- Features (7)
- Greetings (1)
- Inspirations (4)
- Share (2)
- What's on (2)


