Sahabat, kembali hidup mengajakku untuk berpikir. Dalam setiap detiknya, ia menyajikan banyak fenomena yang terkirim dan terekam oleh otak, baik disadari maupun tidak. yah, itulah kehidupan. setiap saat, ada saja hal-hal menakjubkan dan mengejutkan yang hadir didalamnya.
Sahabat, pengalaman dan pengamatan istimewa kembali hinggap dalam diriku. Peristiwa-peristiwa tersebut, tepatnya terjadi hari sabtu lalu 20 Juni 2009. terhitung mulai pukul 18.00 ba'da maghrib WIM (Waktu Indonesia Malang), aku bersama seorang teman, mulai menyusuri ruas-ruas jalan di kota Malang yang, hmmhhh.... dingin ini.
Pertama-tama, aku dan Alif, sahabatku melintasi jalan Sudanco Supriadi di kecamatan Sukun. petang itu, kami berniat melakukan perjalanan untuk berburu berbagai bahan makanan yang kami persiapkan untuk pesanan makanan esok hari. Maklum, saat ini kami sedang menjalankan bisnis katering yang kami namakan Hayati Food Org. hee,,, hee,,, sekalian promosi!!
Tujuan awal kami adalah sebuah toko grosir di wilayah Kepuh. dan pada saat itulah, pengalaman menarik kami bermula. Jalan raya nampak ramai. Ratusan kendaraan berupa mobil dan motor nampak menyusuri Jl. S. Supriadi ke arah utara. Karena kami menuju arah sebaliknya, maka sudah barang tentu agak sulit bagi kami untuk menyeberang.
Beberapa kendaraan yang lewat, sempat menarik perhatianku. karena, sebagian besar dari mereka membawa serta seseorang dimotornya. entah itu teman, sahabat, atau saudara. Hmm, mungkin jika dua orang laki-laki yang beboncengan, bisa jadi itu adalah sesuatu yang wajar. Namun sahabat, bukannya saya memanfaatkan peluang di kesempitan. Tetapi, mata ini tak henti-hentinya menatap pemandangan yang sssshhh,,, membuat mulut ini berdesis ngeri. Bagaimana tidak? berpuluh pasang muda-mudi berboncengan dengan begitu mesranya. Terlebih, pakaian yang mereka kenakan, terutama yang wanita begitu simpel. yah, mungkin "simpel" adalah kata-kata yang pantas saya sebagai konotasi dari kata-kata "jorok", "seronok", "porno" atau apalah itu.
Sahabat, pengalaman dan pengamatan istimewa kembali hinggap dalam diriku. Peristiwa-peristiwa tersebut, tepatnya terjadi hari sabtu lalu 20 Juni 2009. terhitung mulai pukul 18.00 ba'da maghrib WIM (Waktu Indonesia Malang), aku bersama seorang teman, mulai menyusuri ruas-ruas jalan di kota Malang yang, hmmhhh.... dingin ini.
Pertama-tama, aku dan Alif, sahabatku melintasi jalan Sudanco Supriadi di kecamatan Sukun. petang itu, kami berniat melakukan perjalanan untuk berburu berbagai bahan makanan yang kami persiapkan untuk pesanan makanan esok hari. Maklum, saat ini kami sedang menjalankan bisnis katering yang kami namakan Hayati Food Org. hee,,, hee,,, sekalian promosi!!
Tujuan awal kami adalah sebuah toko grosir di wilayah Kepuh. dan pada saat itulah, pengalaman menarik kami bermula. Jalan raya nampak ramai. Ratusan kendaraan berupa mobil dan motor nampak menyusuri Jl. S. Supriadi ke arah utara. Karena kami menuju arah sebaliknya, maka sudah barang tentu agak sulit bagi kami untuk menyeberang.
Beberapa kendaraan yang lewat, sempat menarik perhatianku. karena, sebagian besar dari mereka membawa serta seseorang dimotornya. entah itu teman, sahabat, atau saudara. Hmm, mungkin jika dua orang laki-laki yang beboncengan, bisa jadi itu adalah sesuatu yang wajar. Namun sahabat, bukannya saya memanfaatkan peluang di kesempitan. Tetapi, mata ini tak henti-hentinya menatap pemandangan yang sssshhh,,, membuat mulut ini berdesis ngeri. Bagaimana tidak? berpuluh pasang muda-mudi berboncengan dengan begitu mesranya. Terlebih, pakaian yang mereka kenakan, terutama yang wanita begitu simpel. yah, mungkin "simpel" adalah kata-kata yang pantas saya sebagai konotasi dari kata-kata "jorok", "seronok", "porno" atau apalah itu.
Tentu, sebagai manusia yang normal, saya merasa risih dengan pemandangan seperti itu. Apalagi saat ini, cuaca di kota Malang semakin dengin. So, sangat tidak mungkin apabila logika mengiyakan, agar seseorang mengenakan pakaian yang minim. Bisa jadi masuk angin, influenza, atau penyakit dan alergi lain akan menerpa. Atau ada sesuatu yang lain yang mereka harapkan? pujian dari kaum adam mungkin? yah, bisa jadi. Paling tidak, lelaki yang memboncengnya mengeluarkan kata-kata gombal dari mulutnya untuk membuat penggemar pakaian minim itu bertekuk lutut.
Hal tersebut masih berkutat pada masalah pakaian. Belum lagi cara mereka berboncengan. Sudah barang tentu pasangan suami isteri tidak mau memamerkan kemesraan mereka didepan umum. Kesimpulanku tertuju pada muda-mudi yang masih berpikir kekanak-kanakan dan memperturutkan hawa nafsu mereka. oohh,,, tidak!!! Terbersit begitu saja dalam pikiranku,"boleh jadi, ini adalah laki-laki dan wanita yang menjalin hubungan tanpa status alias pacaran, yang ingin diakui keberadaannya ditengah masyarakat. Karena, dua sejoli yang sudah menikah takkan mencari perhatian orang lain."
Waktu menunjukkan sekitar pukul 18 lebih seperempat. Tibalah kami disebuah komplek perumahan di wilayah Kepuh, dimana kami menuju tempat belanja pertama, sebuah toko grosir. Beberapa meter sebelum kami sampai di toko tujuan, nampak fenomena yang tidak jauh dari aktifitas muda-mudi. Kendaraan bermotor nampak disekitar dua sampai tiga rumah kost wanita yang kami lalui. Terlihat beberapa pasang muda-mudi, sepintas lalu wanita-wanita nampak mengenakan pakaian milik adiknya. Ya, karena pakaian itu lagi-lagi sangat "simpel". Disamping masing-masing mereka duduk seorang pria, yang sepertinya itu adalah pasangan mereka. Tentu bukan suaminya. Melainkan pacar, atau TTM, atau apalah sebutan anak muda zaman sekarang ini. Pemandangan itu nampak mengerikan. Betapa tidak, mereka datang jauh-jauh dari luar kota tapi bayangkan! kerusakan apa yang sedang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri?? Rasa gundah kami sedikit mereda saat kami tiba di toko grosir tujuan kami.
Uang sebesar 47.500 rupiah kami belanjakan untuk membeli beras, kentang, air mineral, dan kebutuhan katering lainnya. Segera saja, kami bergegas menuju tempat produksi katering kami di jalan Sigura-gura. Lagi-lagi dalam perjalanan, di kanan-kiri kulihat muda-mudi beramai-ramai menghabiskan malam minggu yang dingin itu dengan bercanda ria di sepanjang jalan. Sebagian mereka bercengkrama di atas tikar berukuran 1x2 meter di sisi jalanan yang ramai, dengan hanya ditemani jilatan api membakar sumbu lilin. Dan sebagian yang lain, nampak asik berjongkok di pinggiran trotoar sambil menikmati masuknya asap hangat dari rokok yang mereka hisap. Wajar saja, di daerah sekitar kampus memang banyak sekali tempat hang-out. Uang dari saku mereka, yang entah mereka dapatkan dari orang tua ataupun usaha mereka itupun, tak ayal menjadi pemuas hasrat muda yang terpendam selama 5 hari lamanya. Ya, 5 hari, seandainya mereka hang-out di satu malam saja. tapi entah, apakah hari-hari biasanya juga seperti itu, wallahu a'lam bishawab.
(To Be Continued...)
0 komentar:
Posting Komentar