Selasa, 02 Juni 2009

Mayoritas bukan Berarti Bebas


Beberapa dekade ini, nampaknya dunia sudah mulai terbalik ya? yang diatas jadi dibawah, yang dibawah jadi dias, ups diatas maksudnya (hee..he.. narsis mode on nih). ehem, kembali ke jalan yang benar. Dizaman ini, segalanya jadi tidak karuan. Sesuatu tidak diletakkan pada tempatnya. yang salah dijunjung dan dibanggakan, sementara kebenaran ditelantarkan.
Apalagi, jika kita berbicara tentang kaum muslimin. bagaikan tubuh disiksa, tumbuh duri dalam daging pula. Dari luar diterpa pemikiran dan gaya hidup sekuler, dari dalam enggan untuk belajar Islam. Terlebih banyak informasi yang masuk kedalam diri kaum muslimin adalah informasi yang menjauhkan diri dari Khaliqnya. Ditambah agen-agen kafir yang disuntikkan kedalam tubuh kaum muslimin. Orang-orang yang rela menjual aqidah dan keimanannya, hanya untuk mendapatkan harta, tahta ataupun wanita. Na'udzubillah, Rasulullah dulu bahkan menantang kaum kafir Quraisy untuk menghadiahi bulan dan matahari. seandainya bisa pun, Rasulullah tak akan menghentikan dakwahnya. Tapi apa yang dilakukan oleh tokoh, ulama, ustadz, kyai atau apapun namanya, dimana mereka membawa nama Islam, namun menyajikan pemikiran yang justru menjatuhkan Islam. Tidakkah mereka ingat, jika kelak mereka akan dimintai pertanggungjawaban terlebih dahulu?
Ada satu peristiwa yang membuat saya tertegun. Peristiwa ini terjadi pada saat radio tempat saya bekerja sedang diuji kelayakannya dan diaudit. dalam regulasi perundangan penyiaran, ternyata disana muatan agama (baca:islam) hanya diberi porsi sebesar 30 persen saja. ya, itulah kenyataannya. dan sebuah media komersial (jika mau diakui dimata hukum sebagai media yang berhak menerima iklan dan sponsor sebagai pendapatannya) harus menayangkan segala bentuk siaran yang mencakup seluruh kalangan. Dengan kata lain, tidak memihak suatu suku, agama, ras tertentu. Saya bertanya,"Hah, 30 persen?" artinya lebih dari separo asupan informasi yang kita dapatkan bukanlah informasi yang Islami. Katanya, umat muslim mayoritas. Tapi mengapa kepentingannya dikebiri? Adakah ini sebuah skenario "BIG CRUSSADERS"? Skenario dari perang Salib yang tertuah beberapa abad yang lalu. Bahwa kaum kafir, lebih akan melakukan pemurtadan maya, artinya bukan untuk memindahkan agama seseorang tetapi bagaimana agar kaum muslimin berkiblat pada barat dalam hal kepribadian dan tolok ukur baik buruk sesuatu.
Inilah cita-cita para punggawa Yahudi puluhan tahun yang lalu. Umat Islam tidak harus berpindah agama. Tetapi cukup menjadikan budaya dan pemikiran barat sebagai "Agama" kita. Para remaja tidak perlu datang ke gereja, tapi menjadikan grup band Greenday sebagai sahabat. Tidak perlu ikut misa natal, tapi cukup merayakan Valentine's Day. Tidak perlu bernyanyi haleluya, tetapi cukup dengan menenggak sebotol Carlsberg ataupun Heineken. Di media, digambarkan bahwa dengan meminum minuman seperti itu, seorang lelaki akan menjadi keren. Padahal, kalo menurut Islam, menenggak minuman haram, sholatnya ga diterima empat puluh hari empat puluh malam! Atau, dengan menggembar-gemborkan bahwa pacaran itu keren, kalo ga punya pacar itu basi. Ga laku! Padahal, Islam melarang untuk mendekati zina. Nah, hal-hal seperti ini yang sebetulnya lebih berbahaya dari pemurtadan. Kalo orang murtad, jelas kelihatan. Tapi kalo yang begini, ngakunya muslim, tapi kelakuannya petikalan ga karuan. Syariat Allah diserobot demi dapat pengakuan sebagai anak gaul seperti di tivi.
Belum lagi masalah perpolitikan hingga perkawinan. Sistem politik dan perundangan yang tidak menggunakan syariat Islam sebagai landasannya, menjadikan kaum muslimin tidak dapat beribadah sesuai tuntunan Rasulullah. Masih ingatkah sahabat sekalian dengan peristiwa Ahmadiyah? karena masalah kebebasan beragama, mereka lolos dari jerat hukum. Padahal, orang yang mengaku sebagai nabi baru, harusnya dipenggal oleh kepala negara. Lainnya, ingatkah dengan kasus Hari Raya yang nyleneh. Seakan ingin memecah belah umat Islam, pemerintah seringkali memutuskan untuk tidak mengikuti hasil ru'yatul hilal dunia. padahal, jika ada seorang melihat hilal, dan dia adalah orang yang dapat dipercaya, maka seluruh kaum muslimin se-antero jagad raya, harusnya udah pada lebaran. Tapi lihatlah, demi kepentingan sesaat pemerintah dan antek-antek kapitalis lainnya mengotak-atik keputusan itu. Lalu yang menadi korban? tentu kaum muslimin.
Kasus lain adaah pelarangan menikah lebih dari satu. Padahal al-Quran jelas membolehkan laki-laki untuk menikah hingga empat orang dengan syarat mampu berbuat adil. Dan seharusnya, tanpa tedeng aling-aling, siapapun dia selama dia beriman kepada Allah, harus mengimaninya. Toh, dengan dinikahi wanita derajatnya menjadi lebih mulia, kehormatannya terjaga, dan kebutuhannya baik fisik maupun biologis dapat terpenuhi? lihatlah bagaimana pelacur (maaf rada kasar) diperbolehkan untuk beroperasi. Bahkan di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini terdapat lokalisasi pelacuran terbesar se-Asia Tenggara. Mengapa yang haram difasilitasi, dan yang halal malah dilarang? Umat muslim macam apa ini?
Sahabat, kita ini saudara atau apa?Lihatlah, bagaimana rezim-rezim pemimpin negeri muslim diam saja terhadap pembantaian orang-orang Yahudi Israel dan Amerika beserta sekutunya di Gaza, Iraq, Afghanistan dan negeri-negeri lainnya. Lihatlah apa yang dilakukan oleh para pemimpin di negeri muslim? termasuk yang mengaku-ngaku sebagai partai Islam, mereka malah berkompromi dengan Washington, berkompromin dengan demokrasi yang jeas, itu adalah sistem kufur yang haram untuk mengambilnya. Wahai saudaraku yang duduk di parlemen, kabinet dan pemegang tampuk kekuasaan. Ingatlah, kalian akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat atas apa yang kalian putuskan. Sahabat, Apalah arti mayoritas, berjumlah banyak namun sama seperti buih di lautan? bukankah tidak berpengaruh apa-apa?
Inilah sahabat, kondisi yang benar-benar ada dan harus kita hadapi. Tentu kita tidak bisa tinggal diam. Adalah tugas kita bersama, untuk memberikan penyadaran kepada umat, agar bisa memilih dan menyaring informasi yang masuk. Terlebih lagi, harus ada media-media yang islami untuk konsumsi kaum muslim. Walaupun sulit, ya harus tetap berjuang. Dan yang paling penting, sistem di negeri ini kudu diganti dengan sistem yang islami. Sistem yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Jadi, Islam bukan hanya ngurusin sholat dan zakat. Tetapi setiap sendi kehidupan juga ditata dengan syariat-syariat Islam. Itulah kehebatan Islam. Mulai dari mengurus bayi, hingga menonton tayangan televisi semuanya diatur.
Seluruh alam sudah menjawab. Menjawab dengan berjuta bencana yang melanda. Masihkah kita tinggal diam dengan kondisi ini? Apakah kita masih menunggu bencana yang lebih besar datang kepada kita? Ingatlah sahabat, Allah tetaplah Khaliq, walau kita acuhkan perintah-Nya. Islam akan menang walau tanpa perjuangan kita. Kaum muslimin akan tetap berjaya walau sekarang kita memalingkan muka. Tapi sahabat, yang harus kita khawatirkan adalah diri kita sendiri. Mengkhawatirkan apabila kita telah berada di Yaumul Hisab nanti. Jika kita memilih untuk diam, siapkah kita mempertanggungjawabkannya? Oleh karena itu sahabat, itu semua pilihan kita. Mau berjuang melakukan perubahan dan mulia? atau diam saja dan terhina?
Wahai sahabatku, apalagi yang kita tunggu. Kita memiliki al-Quran, Kita memiliki Agama yang Haq, Kita memiliki pemuda, Kita memiliki negeri-negeri, Kita memiliki sumberdaya dan tenaga yang besar, Kita memiliki jumlah penduduk yang banyak. Yang kita butuhkan hanya KESATUAN POLITIK. Hanya syariah dibawah naungan Daulah Khilafah yang dapat menjadikan kita lebih berarti. Mari bersama berjuang, kembalikan kemuliaan Islam, untuk kehidupan yang lebih bermartabat![diaz]

0 komentar:

Posting Komentar