Selasa, 02 Juni 2009

Akan Kembali Terang


Sahabat, kusadari kuberada dalam belantara hidup yang gulita. Belantara yang menyekapku dalam kebodohan dan ketidaktahuan. Belantara yang seharusnya tidak aku masuki, dan seharusnya sudah sejak lama aku tinggalkan. Namun sahabat, sepanjang usiaku ini aku tak pernah kuasa untuk meninggalkannya. Karena akar tanaman didalamnya terlalu kuat menjeratku. Angin sejuk dan segarnya air sungai yang mengalir melenakanku untuk terus hidup didalamnya.


Sahabat, disini aku selalu berharap, aku akan meraup kebahagiaan di dunia yang kukira adalah nirwana. Namun ternyata hanya sekelumit kenikmatan yang habis seketika. Aku menyangka bahwa disinilah aku akan hidup selamanya, mengenyam segala bentuk keindahan. Namun sahabat, tahukah engkau bahwa kehidupanku adalah sekedar dihiasi oleh bayang semu. Tetapi dengan bodohnya aku terus-menerus terhasut oleh bujuk rayu dunia dan hawa nafsu.


Sahabat, dahulu aku berpikir, hidupku masih panjang. Tak perlu ku bersusah payah untuk berjuang hari ini. Masih ada hari esok yang aku miliki. Setiap saat, di segala tempat, aku tak henti-hentinya mengejar apa yang aku inginkan. Segalanya ku halalkan demi terpuaskannya hawa nafsuku. Bagiku, rambu-rambu dan aturan tercipta untuk dilanggar. “Ah, untuk apa ini itu? Toh, aku masih belum tua, masih banyak waktu untuk menyempatkan memikirkan permasalahan hidup. Yang penting sekarang, kan ku nikmati masa muda yang kini kujalani. Apalah pentingya memikirkan orang lain, toh ini hidupku. Aku sendiri yang menjalani, tak usahlah orang mengaturku. Toh, mereka sendiri belum tentu becus mengatur hidupnya!” demikianlah mungkin sepenggal kalimat yang tertuang dalam otakku.


Sahabat, asal kau tau. Setiap hari aku merasa terganggu dengan ocehan orang-orang yang ku anggap sok pintar, sok mengerti agama dan selalu ingin menang sendiri. Seringkali mereka mengusikku dengan kata-katanya yang menyinggung diriku. Mengkritik dan mengoreksi segala hal yang aku lakukan. Yang haramlah, yang tidak sesuai dengan Islamlah, yang harus begini dan begitulah. “Agghh.. kalian ini kenapa sih? Kalo memang nggak bisa melakukan seperti apa yang aku lakukan, ya udah diem aja. Nggak usah pake iri, dan melarangku melakukan ini-itu. Toh kalo memang ini dilarang agama, aku sendiri yang akan menanggungnya. Kalian nikmati saja hidup kalian sendiri, dan hentikan aktifitas mengatur hidup orang lain. Ini hakku untuk berbuat semauku. Jadi jangan usik aku lagi!” yah, itulah kalimat yang sampai sekarang aku ingat. Kalimat yang dulu pernah aku umpatkan kepada seseorang. Seorang kawan yang seringkali memberiku peringatan. Seorang kawan yang senantiasa mengingatkanku untuk kembali ke jalan Sang Khaliq. Aku benci dengan sikapnya yang seakan memperlakukanku seperti anak keci yang tidak tahu jalan hidup.


Benar Sahabat, itulah diriku. Seorang yang egois, bodoh dan merasa akulah prang uang paling hebat se-dunia. Tidak mau diatur, meremehkan orang lain dan menjalani hidup semauku sendiri. Hingga sebuah peristiwa yang akhirnya benar-benar menampar dan menghempaskanku ke dalam jurang yang sangat dalam. Saat apa yang telah diperingatkan oleh kawanku benar-benar terjadi. Sepenggal kata-kata mereka yang masih kuingat, “kami adalah saudara seimanmu. Kami tak pernah rela jika engkau terjerumus dalam lembah dosa...” ya, begitu besarnya perhatian mereka kepadaku. Namun apa yang aku lakukan? Nasihat mereka tak sedikitpun yang aku gubris. Dan inilah hasilnya, sebuah harga mati yang harus aku bayar. Resiko yang harus aku terima sebagai bayaran atas apa yang telah aku lakukan dalam hidupku. Aku telah menghancurkan diri dan keluargaku. Teman-teman yang selama ini aku anggap orang-orang yang paling setia kepadaku, ternyata meninggalkanku. Mereka hanya memanfaatkanku dengan harta orang tua yang selama ini aku banggakan. Kini aku lunglai, sendiri dan putus asa.


Namun Sahabat, betapa malunya aku. Mulutku terdiam sejuta kata, saat kawan-kawan yang mengaku sebagai saudara seimanku, mengulurkan tangannya untuk menolongku yang sedang berada dalam keterpurukan. Bahkan mereka sama sekali tidak mempermasalahkan permusuhan dan cacian yang selama ini aku tujukan pada mereka. Dengan senyum yang tulus mereka hanya berkata, “Sungguh, Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya walaupun sebesar bumi. Insya Allah, kami siap membantumu...”


Sahabat, perlahan mereka membimbingku dari belantara kegelapan ini menuju sebuah titik terang. Membuatku terbelalak melihat kehidupan dan dunia. Ternyata, kehidupan tidak semudah dan semeriah yang aku bayangkan. Terlebih ketika mereka menunjukkan sebuah hakikat kehidupan sebenarnya. Untuk siapa seharusnya jiwa ini kupersembahkan. Untuk apa sebenarnya aku hidup, dan terlahir di dunia yang dulu kuanggap sebagai surga abadi, sebelum surga yang sebenarnya. Mereka memberitahuku, tentang siapa aku sebenarnya. Membuka mataku untuk melihat kenyataan saudara-saudara seimanku, yang kini juga sedang terpuruk, baik harga diri dan kehormatannya. Aku menyaksikan mereka terbujuk oleh nafsu dan kenikmatan palsu. Persis dengan apa yang aku rasakan di masa lalu. Mereka tidak sadar, bahwa agama dan diri mereka sedang dirong-rong dan dihancurkan oleh musuh-musuh Allah ‘azza wa jalla. Lagi-lagi aku dibuat membisu. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, apakah kematian adalah jawabnya? Bukan Sahabatku, karena di kehidupan sebenarnya nanti, kita akan dimintai atas apa yang telah kita lakukan dan tinggalkan. Namun di kehidupan yang fana ini, aku, engkau, dan kawan-kawankulah yang harus menyelamatkan agama dan umat kita.


Inilah cinta sejati. Cinta yang tak perlu kau tunggu, tapi akan mendatangimu. Cinta yang dulu ditebarkan oleh sang utusan Allah, Muhammad saw. Namun kini cahayanya semakin pudar karena pemeluknya tak lagi mau untuk hidup dibawah naungan Islam, agama yang hakiki, Sang Ideologi sejati. Mereka lebih memilih memperturutkan hawa nafsunya dengan mengikuti seruan kamu kafir dan munafik, yang justru akan menikam mereka. Yang justru akan menjauhkan mereka dari ampunan dan rahmat Sang Pencipta. Sahabatku, terjagalah dari segala maksiat, kehinaan dan nafsu dunia yang sesat dan sesaat. Sadarilah, bahwa hidup ini bukan kisah Cinderella ataupun keputus asaan kisah cinta buta Siti Nurbaya. Kehidupan tak dapat diukur. Namun yakinlah, bersama Allah semua akan teratur. Segera bangkit dan lepaskanlah belantara dunia yang kelam, tuk meraih kemuliaan cahaya Allah yang terang.


Sahabatku yang kucintai, harus menunggu siapa lagi untuk membenahi kehidupan ini? Berombalah untuk menjadi insan pilihan Allah sebagai pengemban agama-Nya, dengan menjadi ksatria jihad dan dakwah di jalan-Nya. Bersama jiwa-jiwa yang selalu haus akan ibadah dan niat yang suci dalam perjuangan ini, kita saling mengisi layaknya matahari dan rembulan dengan bingkai ikhlas dan keshalihan. Yakinlah atas janji yang telah diucapkan oleh Allah dan Rasulullah. Dunia tak kan berakhir dalam kegelapan, sebelum kembali terang, sebelum kita, umat Islam mengenyam kemenangan dan merasakan rahmat-Nya yang dahsyat. Mari bersama bergerak dalam dakwah, dan jadikanlah bumi kembali terang dengan cahaya Islam. Raihlah kemuliaan yang sudah digariskan dalam ketentuan Allah Subhanahu wa ta’ala. Teruslah berjuang karena Ridho-Nya telah menantimu. Yakinlah, pertolongan-Nya ‘kan datang sebentar lagi. Tetaplah ikhlas dan istiqomah demi tegaknya kembali syariat di muka bumi, hingga rambut kita memutih, hingga ajal kan datang menjemput diri ini.(dias)

0 komentar:

Posting Komentar