Pening, bimbang, sedih, semua perasaan bercampur menjadi satu. Seorang gadis nampak berdiri disamping ibunya. Gadis itu juga memasang raut muka tegang, menandakan perasaan bingung sedang melandanya. Beberapa saat kemudian, juri menyatakan bahwa gadis tersebut masih bisa tampil minggu depan.
Tangis haru, bercampur perasaan yang lega, kini telah mewarnai hatinya. Berhasil selamat minggu ini, berarti masih ada kesempatan untuk menjadi juara. Ibu, yang selama ini menjadi manajer untuk dirinya, ternyata benar-benar bisa diandalkan. Mulai dari tata rias, gaya rambut dan busana hingga pilihan lagu untuk dinyanyikan, berhasil dipenuhi berdasarkan standar oleh sang manajer. Kontes ini tidak hanya mengandalkan teknik olah vokal yang baik. Penampilan melenggak-lenggok diatas panggung pun menjadi perhitungan bagi para juri. Tentu saja kecantikan dengan memamerkan aurat dan berhias habis-habisan menjadi syarat mutlak untuk bisa berdendang diatas panggung. Sang ibu, tentu ingin anaknya tampil sebaik-baiknya. Hingga semua akan dikorbankan demi anaknya bisa menjadi yang terbaik.
Namun, apakah dengan menjadi yang terbaik dalam kontes itu, bisa menjadikan mereka berdua meraih kebahagiaan sebenarnya? Akankah ratusan anak di negeri ini keblinger dan ingin meraih mahkota sebagai penyanyi terbaik? Ibu, yang seharusnya bisa mengantarkan anaknya kepada ridho Allah, malah menggandeng putrinya ke dalam jurang kegelapan. Apakah mata kita sudah tertutup, sehingga membiarkan kehormatan saudari kita diumbar seenaknya?
Wahai ibu, engkaulah harapanku! (Artikel ini adalah tulisan saya, yang diterbikan di majalah Greensoul vol.5)
Tangis haru, bercampur perasaan yang lega, kini telah mewarnai hatinya. Berhasil selamat minggu ini, berarti masih ada kesempatan untuk menjadi juara. Ibu, yang selama ini menjadi manajer untuk dirinya, ternyata benar-benar bisa diandalkan. Mulai dari tata rias, gaya rambut dan busana hingga pilihan lagu untuk dinyanyikan, berhasil dipenuhi berdasarkan standar oleh sang manajer. Kontes ini tidak hanya mengandalkan teknik olah vokal yang baik. Penampilan melenggak-lenggok diatas panggung pun menjadi perhitungan bagi para juri. Tentu saja kecantikan dengan memamerkan aurat dan berhias habis-habisan menjadi syarat mutlak untuk bisa berdendang diatas panggung. Sang ibu, tentu ingin anaknya tampil sebaik-baiknya. Hingga semua akan dikorbankan demi anaknya bisa menjadi yang terbaik.
Namun, apakah dengan menjadi yang terbaik dalam kontes itu, bisa menjadikan mereka berdua meraih kebahagiaan sebenarnya? Akankah ratusan anak di negeri ini keblinger dan ingin meraih mahkota sebagai penyanyi terbaik? Ibu, yang seharusnya bisa mengantarkan anaknya kepada ridho Allah, malah menggandeng putrinya ke dalam jurang kegelapan. Apakah mata kita sudah tertutup, sehingga membiarkan kehormatan saudari kita diumbar seenaknya?
Wahai ibu, engkaulah harapanku! (Artikel ini adalah tulisan saya, yang diterbikan di majalah Greensoul vol.5)

0 komentar:
Posting Komentar