Satu minggu ini terasa berbeda bagi saya. Karena, baru saja saya rasakan hari-hari yang penuh inspirasi, penuh dengan skenario indah dari Sang Khaliq. Dalam beberapa hari ini, saya berjumpa dengan orang-orang aneh. Ya! Mereka yang saya temui baik dalam wujud nyata ataupun maya alias di dunia cyber, memberikan banyak sekali inspirasi. Dan bagaikan gempa yang membuat retakan di dasar laut, inspirasi mereka juga menciptakan retakan di dalam otak saya. Entah otak bagian kiri atau kanan. Namun yang jelas, retakan itu akan terkenang seumur hidup saya. Atas berbagai pertimbangan, termasuk karena lupa nama, maka dalam tulisan ini saya tidak mencantumkan identitas orang-orang inspiratif tersebut. Bagi yang merasa telah memberi inspirasi bagi saya, yakinlah… ilmu anda akan terus berputar walau badan sudah tertimbun tanah.
Hidup ini memang diciptakan Allah swt. Dengan berbagai warna. Mulai putih, hitam, hingga warna-warna kombinasi yang dapat dikenali mata namun lidah bingung untuk mengucapkannya. Bayangkan saja jika merah, kuning, ungu, putih, jingga, biru, hijau, hitam, cokelat, abu-abu, krem, diaduk menjadi satu. Wah, nggak kebayangkan jadi warna apa? Namun itulah kenyataan dalam hidup. Terkadang ada satu atau bahkan lebih kondisi yang kita bahkan tidak pernah memikirkannya, namun hal itu benar-benar terjadi. Contohnya, seorang mahasiswa yang hidupnya berkecukupan, namun memilih untuk menghentikan kuliahnya. Padahal mungkin selangkah atau dua langkah lagi ia bisa merasakan bahagianya suasana wisuda. Atau seorang pegawai dengan gaji dan tunjangan yang menggiurkan memilih untuk keluar dan merangkak dari bawah untuk membangun perusahaannya sendiri. Padahal ia memiliki peluang untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar dan menggiurkan.
Aneh mungkin bagi sebagian orang. Namun tidak bagi Mark Zuckerberg ataupun Bill Gates. Juga bagi Walt Disney dan Soichiro Honda, itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan. Atau ketika berpaling ke dalam negeri, akan kita jumpai nama-nama seperti Bob Sadino, Purdi E. Chandra dan lain-lain. Eits, sebelumnya bukannya saya menonjolkan sosok Bill Gates nih. Jujur saja, sebenarnya saya ngefans dengan Bill Gates dan Walt Disney. Mereka punya pemikiran berbeda dari yang lain. Tapi sayangnya, Bill Gates terlibat dalam proyek pemusnahan 0.9% populasi manusia. Dan Disney, juga suka menampilkan pelecehan terhadap Islam dalam beberapa filmnya. Namun, yang saya tonjolkan disini adalah keberaniannya untuk mencapai sukses. Sukses yang diraih dengan jalan yang berbeda dan keuletan yang lebih tinggi.
Lalu, bagaimana jika kondisi itu terjadi disekitar kita? Apakah kita akan mengolok-oloknya? “dasar bodoh, udah dibiayain mahal-mahal kuliah, nggak dimanfaatin. Udah susah-susah ikut tes, tapi disia-siain!” atau kita akan berprasangka buruk pada orang yang resign dari pekerjaannya? “wah, pasti dia malas kerja. Wah, pasti gajinya sedikit. Wah pasti dipecat. Wah pasti punya selingkuhan di kantornya” dan lain-lain. Apakah hal itu yang bakal terucap? Disadari atau tidak, dalam kehidupan saat ini hal-hal tersebut dimaknai sebagai sesuatu yang negatif. Bahkan muncul anekdot “PENGACARA” alias Pengangguran banyak acara. Tapi kalo kita teliti lebih lanjut, kira-kira kalo orang banyak acara apakah itu disebut pengangguran? Toh, makan anggur juga sebuah aktivitas. J hee..hee.. rehat sejenak nih ceritanya.
Baik, kembali ke jalan yang benar dan shaf yang lurus. Kondisi lain yang juga sering dimaknai negatif adalah pernikahan dini. Bener nggak nih? Ketika sepasang muda-mudi menikah di usia 19 atau 20, maka tidak sedikit mereka yang mengatakan, ”ini nih.. em bi e, alias married by accident. Pasti udah hamil duluan, dasar nggak tau malu!” gimana, pernah denger kalimat ini? Kalo iya, ya beginilah kondisi masyarakat kita. Lebih banyak berpikiran negatif daripada mencari kemungkinan-kemungkinan positif. Bahkan dalam hidupnya sehari-hari, mereka juga suka mengatakan, ”nasib, nasib, udah capek-capek kerja, eeh.. bayaran Cuma segini. Dasar perusahaan korup. Maunya cari untung sendiri, pegawai nggak diurusin.” Yaah, Kalo sudah begini, apapun aktifitasnya bakal menjadi sesuatu yang buruk bagi kehidupan. Sedikit-sedikit, menyalahkan ini dan itu. Tapi lagi-lagi itulah keadaan saat ini.
Padahal jika kita mau berpikir lebih mendalam, akan kita temui betapa mulianya tujuan orang-orang tersebut. Karena memang mereka berpikir berbeda dengan manusia pada umumnya. Gimana bisa mulia? Padahal mereka adalah orang yang membuang-buang kesempatan. Kesempatan mengenyam bangku pendidikan disia-siakan sehingga tidak dapat ijazah. Kesempatan dapat gaji tinggi disia-siakan dengan resign. Kesempatan waktu muda yang produktif disia-siakan dengan menikah. Paling-paling Cuma buat nurutin nafsu seksual. Lalu apanya yang mulia? Toh Cuma bikin malu keluarga. Lontang-lantung nggak jelas. Hmm, itukah anggapan yang muncul?
Saat ini yang menjadi mindset kehidupan kebanyakan orang tua atau bahkan anak-anaknya, adalah mencari nilai sebagus-bagusnya di sekolah, didukung dengan bergabung di lembaga bimbingan belajar. Ketika hendak penjurusan, IPA adalah tempat bagi anak-anak pandai, sedangkan IPS ataupun Bahasa adalah rumah bagi si IQ jongkok. Kemudian Lulus dari UAN dengan nilai yang bagus. Setelah lulus, masuk kampus favorit di jurusan favorit juga. Antara kedokteran, teknik, ilmu komputer atau ekonomi. Kehidupan di kampus juga diwarnai pola yang sama. Dapat IPK kepala tiga, ngelamar jadi asisten dosen, lulus dengan gelar cumlaude. Berikutnya, menggunakan ijazah untuk melamar kerja. Dan ternyata, pola yang sama kembali terulang. Bekerja sebaik-baiknya, dapat gaji tinggi, jabatan tinggi. Kemudian menikah dengan anak konglomerat, punya rumah gedong dan mobil mewah. Setelah itu punya anak, digedein dengan cara yang sama. Dan akhirnya menutup usia. Betapa singkatnya kehidupan.
Lahir, makan, sekolah, kuliah, kerja, menikah, punya anak, mati. Untuk hal-hal itulah kebanyakan orang menghabiskan hidupnya. Bukankah hidup memiliki arti yang lebih luas dibandingkan delapan hal tersebut. Hidup memiliki manfaat yang lebih indah daripada sekedar memenuhi perut sendiri ataupun keluarga. Bukankah kita diciptakan juga untuk memberi manfaat pada makhluk lain? Seorang ayah atau ibu di zaman ini mungkin lebih berbangga ketika anaknya memegang ijazah sarjana. Padahal setelah itu, ijazahnya tidak digunakan untuk apa-apa kecuali untuk difoto copy dan digunakan untuk penutup kepala pada saat job fair. Bahkan foto copy-an ijazah jadi lebih berharga karena foto copy ijazah lah yang digunakan untuk melamar kerja. Kebanggaan tinggallah kebanggaan. Esok harinya harus ditemui kenyataan bahwa enam belas ribu orang sarjana tiap tahun di Indonesia menambah jajaran pengangguran. Terlanjur menyesal karena tidak memiliki keahlian dan ketrampilan saat usia masih muda.
Atau di sudut kehidupan yang lain, seorang ayah dan ibu gigit jari saat anaknya hanya berbekal ijazah tingkat SMA atau SMK. Memang mengkhawatirkan. Betapa tidak, perusahaan mana yang bakal menerima seseorang dengan ijazah dan kepandaian pas-pasan? Maka, satu-satunya perusahaan yang bisa menerimanya adalah perusahaan yang didirakannya sendiri. Hingga, lima atau sepuluh tahun kemudian anak yang diragukan kemampuannya itu, memiliki perusahaan yang bisa mempekerjakan para sarjana yang notabene bergelar lebih tinggi. Dan pada saat itu, barulah sang ayah atau ibu berdecak kagum. Lho, kok kamu bisa nak? Sejak kapan kamu belajar begini dan begitu? “hmmh, baru tau dia..” kata si anak. Sebuah fenomena yang benar-benar terjadi.
Tentu bukanlah disebut orang yang sukses apabila ia menghabiskan waktu dan tenaganya untuk mencari manfaat bagi dirinya sendiri. Bukan orang sukses apabila setiap hari yang diperhatikan hanyalah bagaimana cara memenuhi perutnya, perut istri dan anak-anaknya dan membahagiakan mereka saja. Sementara mereka berdiam diri dengan keadaan diluar sana. Bukan orang sukses jika tidak memikirkan berapa banyak orang yang berkeluh kesah, tidak memiliki ketrampilan dan penderitaan-penderitaan lainnya.
Bukankah Rasulullah saw. bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi yang lain? Bukankah orang-orang yang membuka lapangan kerja lebih istimewa dibanding dengan pekerjanya? Bukankah seorang atasan yang dapat mengayomi pegawainya adalah orang yang lebih mulia? Lalu, dalam kondisi itu, apakah ijazah dan status sosial yang berbicara? Apakah nama almamater yang berguna? Bukankah kecerdasan, inovasi, kreativitas dan empati seseorang jauh lebih berharga dari secarik kertas yang penuh abjad “A”? Bukankah hal yang naif jika menentukan kepandaian seseorang hanya darimana ia lulus sekolah ataupun kuliah? Jika tidak, mengapa Thomas Alfa Edison menjadi salah satu manusia terpenting dalam sejarah dunia? Bukankah ia bergelar ‘idiot’ dari sekolahnya? Bukankah Albert Einstein juga bergelar ‘cacat mental’? Atau bukankah Muhammad saw. bergelar ‘buta huruf’ pula? Lalu, bukankah saat ini kita juga harus berterima kasih kepada orang-orang yang bukan lulusan kampus ternama itu?
Beberapa hari lalu, seseorang mengatakan pada saya lewat pesan singkat bahwa jika seorang muslim akan berbuat ma’ruf, maka dia harus bertindak tanpa memikirkan resikonya. Masalah hasil serahkan saja kepada Allah. Toh, kita bukan saja berniat baik tapi juga sudah berbuat baik. Jadi apa masalahnya? Kalaupun hasilnya bertolak belakang dengan keinginan kita maka itu akan menjadi ujian bagi kita. Kalo sesuai dengan harapan, itulah berkah bagi kita. Namun bukankah kebanyakan manusia masih suka paranoid alias takut pada sesuatu yang belum ada? Setiap hari mengucapkan kalimat syahadat, tetapi juga sering melupakan campur tangan Allah dalam menolong hidupnya. Atau bahkan mengatakan,”mana mungkin saya ditolong oleh Allah. Gimana caranya Allah mau menolong saya?” dan lagi-lagi, pernyataan konyol itu sering kita dengar.
Memang sih, ada berbagai syarat agar kita ditolong oleh Allah. Antara lain adalah dengan menolong agama-Nya dan banyak bersedekah. Namun ada juga pertanyaan,”loh, orang-orang non-muslim ga pernah sholat tapi hidupnya berlimpah harta. Kenapa saya yang sholat tiap hari hidup biasa-biasa aja? Gimana mau sedekah, untuk biaya hidup aja masih ngirit. Nanti aja sedekahnya, kalau sudah punya uang banyak.” lagi-lagi pertanyaan dan pernyataan semacam ini muncul. Tenang saja, jawaban atas pertanyaan ini juga sudah disediakan Allah swt. Dalam firman-Nya, surat Hud ayat 15 dan 16.
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”
Tuh kan, jadi ga perlu khawatir dan iri hati melihat orang-orang non-muslim memiliki harta yang melimpah. Karena apa-apa yang mereka usahakan hanya akan terhenti di dunia. Dia akhirat, mereka Cuma menjadi bahan bakar api neraka. Mau? Nggak lah..
Namun sebagai seorang muslim, apakah kita nggak boleh kaya? Apakah kita nggak boleh belanja ke showroom mobil? Kan untuk hidup juga butuh harta? Lagi-lagi pertanyaan standar masyarakat zaman ini muncul. Tapi lagi-lagi Islam sudah punya jawabannya. Apakah kita pernah denger kisah Nabi Muhammad Saw. meminta-minta dan mengemis? Malah kisah bahwa beliau orang yang dermawan telah melegenda. Bukankah itu menandakan beliau adalah orang yang berkecukupan? Hanya saja, beliau tidak menunjukkannya dengan bermewah-mewah. Apalagi kalo kita ingat seseorang bernama Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Wah, konglomerat abis tuh! Betapa tidak, seperempat harta yang diinfaqkan Utsman pada perang Badar masih jauh lebih banyak daripada setengah harta Umar bin Khaththab ditambah seluruh harta Abu bakar. Sedangkan Abdurrahman bin auf ketika meninggal dunia masih punya warisan berupa ribuan ekor unta. Padahal semasa hidupnya, beliau suka membagi-bagikan hartanya kepada kaum muslimin. Tuh kan, dengan memberi terbukti bisa lebih kaya?
Kondisi runyam seperti sekarang ini sebenarnya diakibatkan oleh pola pikir manusia yang meterialistis. Segalanya diukur dengan banyaknya uang. Kalau harta melimpah berarti sukses, kalau harta sedikit berarti gagal. That’s all. Maka tidak heran, orientasi hidup manusia saat ini dinilai dengan uang. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi, uang adalah komoditas utama untuk dikejar. Banyak menerima, sedikit memberi. Inilah kondisi yang menjadikan manusia tidak menjadi makhluk istimewa. Melainkan makhluk biasa, yang tidak memikirkan kondisi ketika berada dikehidupan kedua.
So, menjadi manusia yang biasa-biasa atau yang istimewa adalah pilihan kita. Tentu dengan segala bentuk konsekuensi dan resikonya. Banyak orang mengatakan untuk hidup seperti biasanya. Misalnya, “biasanya kerja itu habis kuliah. Nikah habis kerja. Jangan yang aneh-aneh lah… bisnis itu sulit, udahlah toh kerja juga dapat uang” dan lain-lain. Namun pertanyaannya adalah, apakah orang yang mengatakan seperti itu, mendapatkan hidup yang luar biasa atau biasa-biasa saja? Kalo memang hidupnya luar biasa, bolehlah ucapan seperti itu dicontoh. Tapi jika hidupnya biasa-biasa, maka ucapan itu adalah ucapan bagi orang yang biasa-biasa saja.
Dan jika kita memilih untuk menjadi istimewa, maka lakukanlah sesuatu yang juga luar biasa. Menikah di usia muda, kenapa tidak? Jika sudah punya anak, maka ketika si anak berada pada posisi membutuhkan banyak biaya, kita masih bisa produktif karena usia belum terlalu tua. Berbisnis juga, kenapa tidak? Saat sistem kerja telah terbentuk, kita tidak perlu repot-repot untuk kerja delapan atau sepuluh jam sehari. Banyak waktu yang bisa kita gunakan untuk berdakwah dan menyebarkan ilmu. Seandainya nanti usia telah lanjut dan tidak bisa banyak beraktifitas, perusahaan yang kita dirikan dapat dijalankan oleh anak-anak kita. Selain itu, juga pasti bermanfaat bagi banyak orang walau kita telah tiada. Bandingkan dengan kondisi orang-orang yang gusar atas dana pensiun di usia lanjut. Bukankah ini adalah sesuatu yang istimewa?
Masih menancap sebuah fenomena yang terjadi pada saat saya duduk di bangku SMA. Entah kelas berapa, tapi yang jelas pada saat itu saya masih berpakaian putih abu-abu. Pada saat itu sedang musim remaja menggunakan sepatu bermotif corat-coret. Mulai dari yang hitam-putih, hitam-putih-merah, sampai yang berwarna-warni. Ada sebuah motif sepatu yang sampai sekarang saya ingat. Motif itu bertuliskan “being different is not easy”. Walaupun saya tidak pernah punya sepatu itu, tetapi saya sangat menyukai kalimat itu. Entah bagaimana dengan teman-teman yang pernah atau sedang memakai sepatu itu.
Karena saat seseorang menjadi berbeda dengan kebiasaan yang ada, maka dunia pasti akan menghujat. Menakut-nakuti dengan ancaman kegagalan, menjadi orang yang terasing dan dipandang remeh serta hina. Tetapi saat perbedaan atau sesuatu yang tidak biasa itu justru menuai kesuksesan, maka mereka yang pada awalnya menghina, justru mengelu-elukan. Misalnya ketika dulu orang tua meminta menjadi pegawai negeri dan tidak setuju dengan cita-cita sebagai pengusaha. Pada awalnya, mereka akan menghina dan menghantui dengan bayangan kegagalan. Namun jika suatu saat anaknya berhasil sebagai pengusaha, mereka akan berkata “siapa dulu, orang tuanya..”
Mungkin bagi sebagian pembaca, menganggap saya memberikan dorongan untuk menjadi pengusaha daripada menjadi pegawai. Yah, bolehlah dianggap seperti itu. Karena memang kata Rasulullah sembilan dari sepuluh pintu rizki dibukakan dari berdagang. Tapi saya heran, kenapa banyak orang berebut pada satu pintu saja dengan menjadi pegawai? Padahal sembilan pintu lainnya terbuka lebar. Persaingan-persaingan tentu bukanlah suatu hal yang menghalangi untuk sukses kan? karena ar-rizqu biyadillah. Rizki itu ada di tangan Allah. Jadi tinggal bagaimana kita berbisnis dengan cara-cara yang islami dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.
Namun sesungguhnya lebih dari sekedar memotivasi untuk menjadi pengusaha, saya lebih menekankan agar kita menjadi orang-orang yang berbeda. Jika saat ini kebanyakan manusia banyak berpikir untuk dunianya, maka kita harus menjadi orang yang menggunakan dunia sebagai jalur sukses ke akhirat. Jika kebanyakan manusia menganggap sukses dunia dan sukses akhirat adalah dua hal yang berbeda, maka mari kita lihat bahwa sukses di akhirat adalah karena tindakan kita di dunia. Dan segala tindakan di dunia akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Maka kita perlu berhati-hati dalam menentukan pilihan kita di dunia. Selain itu, tentunya kita juga harus berhati-hati dalam bertindak. Karena setiap jengkal perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Maka lakukan apa saja yang anda suka. Karena saat anda melakukan sesuatu yang anda cintai, apapun resikonya akan anda hadapi dengan berani dan tak ada rasa gentar sedikitpun. Lakukan apa saja, tanpa ada paksaan dari siapapun. Lakukan apa saja yang anda sukai selama tidak bertentangan dengan perintah dan larangan Allah swt. Berpikirlah kreatif, inovatif dan bangunlah sebuah tim yang tangguh serta fokus di dalamnya, serta jangan lupa untuk menghadirkan manfaat bagi kehidupan manusia. Karena bisa jadi hal itu akan mengantarkan anda pada ridho dan surga-Nya.
Dan akhirnya sebelum tulisan ini berakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang selama ini mendukung saya dalam hidup. Terima kasih atas energi positifnya, sehingga saya dapat terus melaju. Terimakasih juga atas energi negatifnya, sehingga saya dapat belajar untuk menahan emosi. Terima kasih kepada orang tua saya, yang menjadikan saya memiliki tekad dan berpikir di luar kotak. Terima kasih kepada teman-teman saya yang membuat otak saya selalu berputar. Terimakasih kepada orang yang memiliki semangat seperti berlian, sehingga saya dapat belajar bagaimana melewati ujian. Dan terimakasih kepada orang-orang yang sudah menebarkan manfaat. Insya Allah, bersama-sama kita terus menebar manfaat, sehingga kehidupan dapat kembali pada fitrahnya. Mari, jadikan hidup kita bermanfaat bagi manusia dan mendapatkan cinta tertinggi dari Allah ‘azza wa jalla.
Wallahu a’lam bishawab.
diaz-soul inspiring

0 komentar:
Posting Komentar