Jumat, 08 Januari 2010

Kabar Januari

Survey YouGov : 40 % Mahasiswa Muslim Inggris Mendukung Syariah dan 33 % Mendukung Khilafah

HTI-Press. Dalam sebuah hasil survey yang dilakukan YouGov terungkap hasil yang cukup mengejutkan dua perlima (40 %) dari mahasiswa Muslim yang disurvei mendukung diterapkannya Syariah menjadi undang-undang bagi Muslim Inggris. Sementara itu sepertiga (33%) dari mahasiswa Muslim yang disurvei mendukung diterapkannya kekhalifahan di seluruh dunia yang didasarkan pada hukum Syari’ah. Mayoritas (58%) dari anggota aktif Masyarakat Islam kampus mendukung ide ini.


Hasil ini disampaikan Jhon Thorne dan Hannah Stuart dari oleh Pusat Kohesi Sosial di Inggris dalam laporannya yang berjudul Islam di Kampus : Sebuah Survey Jajak Pendapat Mahasiswa di Inggris. Islam di Kampus adalah survei yang paling komprehensif yang pernah dilakukan atas pendapat para mahasiswa Muslim di Inggris, berdasarkan polling yang tugaskan khusus untuk itu yakni YouGov atas 1400 mahasiswa, di lapangan maupun lewat wawancara.

Laporan ini meneliti sikap para mahasiswa mengenai isu-isu kunci termasuk toleransi beragama, kesetaraan gender dan integrasi. Sementara mayoritas mahasiswa Muslim ‘mendukung sekularisme dan nilai-nilai demokrasi, mereka toleran terhadap kelompok-kelompok lain dan menolak kekerasan atas nama agama, Islam di Kampus juga mengungkap temuan-temuan yang signifikan. Kecendrungan mahasiswa muslim Inggris untuk mendukung syariah dan Khilafah memang meningkat meskipun belum menjadi suara mayoritas.

Adapun ketika ditanya tentang isu perang Irak, dua pertiga dari mahasiswa Muslim yang disurvei (66%) mengatakan mereka telah kehilangan rasa hormat terhadap pemerintah Inggris karena invasinya ke Irak. Secara terpisah, 20% juga mengatakan bahwa rasa hormat mereka terhadap masyarakat Inggris secara keseluruhan telah berkurang.
Namun, hampir sepertiga (30%) dari mahasiswa Muslim yang disurvei mengatakan mereka menghormati masyarakat Inggris telah meningkat didasarkan pada reaksi publik (umumnya negatif) terhadap perang Irak.

57% dari mahasiswa Muslim yang disurvei mengatakan bahwa prajurit Muslim Inggris harus dibiarkan untuk memilih keluar untuk mengambil bagian dalam operasi militer di negara-negara Muslim, dibandingkan dengan sebagian besar (71%) dari responden non-Muslim yang mengatakan mereka seharusnya tidak keluar.

Peran Hizbut Tahrir

Selama ini gerakan Islam di kampus Inggris yang sangat gencar menyerukan syariah dan Khilafah adalah Hizbut Tahrir. Kelompok liberal telah menggunakan berbagai cara untuk mencegah berkembanganya Hizbut Tahrir di kampus-kampus Inggris. Namun tampaknya upaya itu tidak berhasil. Meskipun belum menjadi suara mayoritas, dukungan mahasiswa Inggris terhadap syariah dan Khilafah semakin meningkat.

Banyak diantara mahasiswa muslim yang tadinya berpikir sekuler kemudian berubah setelah berinteraksi dengan aktivis Hizbut Tahrir di kampus-kampus. Salah satunya adalah pengalaman Dr Nazreen Nawas . Muslimah yang sekarang menjadi Perwakilan Media Muslimah HT Inggris ini belajar kedokteran di Kings College London dan lulus tahun 1997, juga mendapat gelar BSc di bidang Biomedical Science.

Walaupun lahir dari keluarga Muslim, gaya hidup dan pemikiran Nazreen sebelum mengenal Hizbut Tahrir sangat terbentuk oleh nilai-nilai dan ide-ide Barat.” Saya melihat Islam hanya sebagai suatu keyakinan agama yang tidak memiliki kaitan dengan politik atau aturan yang mengatur suatu masyarakat. Pengetahuan saya tentang Islam hanya terbatas pada beberapa ibadah ritual seperti shalat, puasa, haji dan zakat”, ujarnya.

Namun pandangannya berangsur berubah setelah berinteraksi dengan Muslimah HT. Dia mengakui pertama kali mengenal HT saat masuk kuliah di universitas ketika menghadiri pengajian-pengajian dan diskusi-diskusi yang diadakannya. Melalui diskusi dengan para anggotannya, dia kemudian menjadi yakin secara rasional melalui bukti-bukti yang diberikan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan cara hidup untuk seluruh umat manusia.

Mulailah tergambar dalam benaknya bahwa ketika Islam dijadikan sebagai sebuah sistem pemerintahan dan hukum dalam sebuah negara, maka negara itu dapat menjadi negara yang memimpin dengan kuat secara ekonomi maupun moral, mengangkat dan menciptakan suatu masyarakat yang maju di bidang teknologi dan sains, di samping menjadi negara yang aman, tentram dan menjunjung kehormatan umat manusia.

“Dari penelitian yang saya lakukan, HT lah satu-satunya kelompok yang dapat mempertanggung jawabkan setiap pernyataanya, mengadopsi segala pemikiran dan tindakannya dengan mengambil dalil-dalil Islam, memiliki kejelasan dalam tujuannya, dalam setiap langkah perjuangannya, dan visi sebuah negara yang akan dibangunnya, termasuk dibuatnya sebuah draft konstitusi,” tegasnya.(RZ/FW)

sumber: hizbut-tahrir.or.id
***
Obama Mengobarkan Perang Terhadap
Negeri-Negeri Muslim

Perang Presiden AS, Barack Obama terhadap Afghanistan telah menyebar jauh: Pakistan, Yaman, Somalia, dan ke dalam sub-Sahara Afrika. Wilayah-wilayah perang yang kini sedang dilancarkan itu memiliki beberapa fitur yang sama: mereka adalah Muslim, miskin, dan sebagian besar wilayah rumah mereka menjadi liar dan tidak ramah, dengan sedikit infrastruktur modern. Dan pasukan Barat berada pada posisi yang kurang menguntungkan terhadap suku pejuang, yang cenderung menjadi armada dengan bersenjata ringan dan dapat dibedakan dari warga sipil.

Banyak ahli percaya bahwa provokasi Barat ke negara-negara Muslim justru akan mengobarkan sentimen anti-Amerika. Pertanyaannya tentu saja tidak akan dijawab dengan kekuatan militer. Dalam perang semacam ini, ada dua arus mobilisasi yang kuat, yang menarik manusia ke dalam militansi.

Yang pertama adalah kebutuhan yang dirasakan untuk membela Islam melawan agresi orang-orang kafir; walaupun suku-suku itu terkenal akan perseteruannya; mereka akan bersatu melawan musuh bersama, terutama jika mereka dipanggil untuk melakukannya di bawah bendera Islam. Yang kedua adalah balas dendam. Serangan dari luar tidak dapat dibiarkan tanpa hukuman. Pembalasan adalah fakta pusat kehidupan suku-suku ini, karena jika Anda seorang anggota suku, klan atau keluarga Anda terbunuh, maka kematiannya harus dibalaskan.

Di Afghanistan, Pakistan, Yaman dan Somalia, tradisi kesukuan masih sangat kuat. Suku atau marga adalah fokus utama dari kesetiaan, bukan bangsa. Maka tidak heran, jika Karzai masih sedikit memenangkan pemilu Agustus 2009 silam.

Menteri Luar Negeri Yaman, Abu Bakr Al Qurbi menegaskan bahwa negaranya tidak ingin ada campur tangan asing. Memang Yaman memerlukan bantuan ekonomi dan peralatan militer, tapi bukan pasukan Amerika. Tapi serangan udara Amerika terlanjur menggoyang dan mendiskreditkan pemerintah Yaman dengan penggambaran sebagai kaki tangan Washington. Fenomena yang sama dapat diamati di wilayah suku Pakistan, dimana tentara Pakistan dipandang tengah memerangi rakyatnya sendiri atas nama Amerika.

Titik dasarnya adalah bahwa pendekatan militer perlu dibarengi dengan pendekatan pembangunan. Karena kemiskinan, pengangguran, pemerintah yang korup dan rasa umum keputusasaan menyebabkan orang-orang muda mengangkat senjata mereka melawan Amerika dan sekutu-sekutunya.

Jelas bahwa Obama yang telah memperluas perang melawan Al Qaida yang samar, telah membawa Amerika lebih dalam ke dalam rawa. Obama mungkin akan menerapkan terapi shock politik dalam konflik di Afghanistan, tapi sekali lagi bukan perang.

Hal yang sama berlaku untuk Yaman, sebuah negara pegunungan dan suku-suku yang kuat, sama seperti Pakistan. Obama sangat membutuhkan itu untuk mengubah citra Amerika di dunia Islam. (sa/gulfnews)


sumber: eramuslim.com
***
KH Kholil Muhammad: Semoga Tak Ada Kiai Nyeleneh Lagi Setelah Gus Dur


Pamekasan- Sejumlah kiai dan ulama di Madura yang dikenal berlawanan pandangan politik dan agama dengan almarhum Gus Dur mengungkapkan turut berduka cita atas wafatnya mantan presiden RI ke empat tersebut.


Salah satunya KH Kholil Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Gunung Jati Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Ia mengatakan, diluar pemikirannya yang selalu kontroversial, Gus Dur adalah guru dan tokoh yang sulit dicari tandingannya. “Sebagai orang NU, kami kehilangan tokoh besar,” katanya, Rabu (30/12).

Ia mengaku secara politik dan pemikiran keagamaan bersebrangan dengan Gus Dur. Ia menilai pluralisme agama yang diusung Gus Dur sangat berbahaya bagi umat islam. “Semoga tidak ada lagi kiai nyeleneh secara pemikiran setelah Gus Dur,” ujarnya.

Meski begitu, Kholil Muhammad mencatat berbagai jasa Gus Dur. Salah satunya, ia berhasil mengubah kultus ketokohan orang Jawa terhadap raja-raja kepada para ulama dan kiai. Seperti munculnya kiai langitan yang berpengaruh di pulau Jawa.

Selama menjadi ketua NU antara tahun 1984 hingga 1999, lanjut dia, Gus Dur berhasil mengubah ekslusivitas menjadi terbuka dan berwawasan kenegaraan.

sumber: tempointeraktif.com

1 komentar:

Tim Bikinprofil Dot Com mengatakan...

Mantap Bosss, keep sharing....

Posting Komentar